Salah satu trend terkini di dunia marketing + IT adalah maraknya penjualan online. Salah satu cara tergampang dan termurah adalah dengan memanfaatkan berbagai blog gratis. Namun blog tentu punya kterbatasan. Tak ada fasilitas add to chart, online payment, dan sulitnya customizing, adalah beberapa ktertbatasan yang sering dirasakan.
Nah, sebagai wong IT, sy bermaksud menawarkan rekans sekalian, jasa pembuatan toko online, jika berminat jualan online. Demonya bisa dilihat di http://shop.duniaweb.com.
Harganya? cuma 50ribu/bulan! Fantantis bukan?
Sedih. Itulah yang dirasakan ibu tersebut. Entah dari mana sumbernya, namun berita bahwa anaknya melihat situs tak senonoh di internet merebak ke mana-mana. Ia sendiri mendengar berita itu dari tetangganya. Tetangganya mendengar dari tetangganya lagi, yang mendengar dari tetangga tetangganya lagi. Seberapa akuratkah berita itu? Ternyata, dibandingkan kenyataannya, berita yang beredar jauh lebih heboh. Memang ada sedikit kebenaran pada berita tersebut, yaitu, anaknya bersama teman-temannya iseng membuka internet, dan mencari info tentang artis pujaannya. Namun internet memang punya segudang info, yang perlu maupun yang sampah. Tanpa sengaja, anak-anak lugu yang baru belajar internet ini terperosok ke situs yang menampilkan artis dengan busana kurang pantas. Dan mereka kepergok. Entah bagaimana, berita yang menyebar adalah anak-anak tersebut sengaja mengunjungi situs porno. “Gosip berhembus laksana angin. Terbang ke mana-mana, tak kenal ruang dan waktu. Semakin terkenal orangnya, semakin luas jangkauan gosipnya. Gosip juga ibarat tarikan nafas, tak pandang siapa pun, miskin kaya, susah senang, hampir semua membawa atribut gosip. Hanya orang-orang yang waspada yang bisa terhindar darinya.” Demikianlah ustadz muda di hadapanku ini mengawali ceramahnya tentang gosip. Awal yang menarik. “Gosip menjadi primadona di televisi. Dari RCTI ada Go Spot, Silet, Kabar Kabari. Dari SCTV ada Waswas, Halo Selebriti, Ada Gosip. Indosiar menawarkan Kiss, Intermezo. TPI menyiarkan Go Show, Blak-blakan Selebriti. TransTV menjual Insert Pagi, Insert Siang, Insert Sore tiap hari. TV7 ada Star7, Kabar Idola. StarANTV menawarkan Espresso, Double Espresso. Di Lativi ada Expose Siang. “Bila acaranya bagus dan juga muatannya seputar informasi yang tidak membuka aib seseorang atau keluarga tidak menjadi masalah. Yang merusak itu kalau yang diekspos tentang ribut-ribut keluarga kemudian saling membongkar aib masing-masing pasangan suami-isteri atau keluarga lainnya. Dampak negatifnya nanti akan memberikan kesan bahwa selingkuh adalah sesuatu yang diperbolehkan, hamil di luar pernikahan adalah hal yang biasa. Itu mengganggu konsep keluarga yang bahagia. “Gosip mendapatkan perlakuan ‘istimewa’ di alQuran, lantaran bahayanya yang nyata. AlQuran menyebutnya ghibah, ” katanya melanjutkan. Namun kupikir, ini bukanlah informasi baru. Artinya, sudah banyak orang yang tahu tentang gosip, bahayanya, dan ancaman Allah terhadap orang yang melakukannya. Namun demikian, minimal apa yang disampaikan bisa mengingatkan kembali diriku yang sering lupa ini. Ustadz tadi kemudian membacakan ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12) Dan definisi yang Rasulullah sendiri berikan, “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Si penanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya?” Rasulullah e menjawab, “kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika tidak benar, bererti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada).” (HR Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad). Namun ustadz tadi menambahkan “Ghibah adakalnya diperbolehkan. Imam Nawawi menjelaskan hal ini dalam Syarah Shahih Muslim dan Riyadhu As-Shalihin kapan dan di mana ghibah menjadi boleh “Ghibah menjadi boleh jika bentuknya adalah At-Tazhallum (pengaduan). Boleh bagi seseorang yang terzhalimi untuk mengadu kepada seorang penguasa atau seorang qadhi atau yang lainnya dari pihak-pihak yang meliki kekuasaan atau kemampuan untuk berbuat sportif terhadap pihak yang menzhaliminya, dengan berkata (misalnya), “Si Fulan telah menzhalimi saya dengan (perbuatan) ini. Juga untuk permintaan tolong untuk mengubah sebuah kemungkaran, mengembalikan seseorang yang berbuat kemaksiatan kepada kebenaran, dengan berkata kepada pihak yang diharapkan kemampuannya untuk menghilangkan kemungkaran tersebut “Selain itu juga untuk Al-Istifta’ (upaya meminta fatwa). Yaitu dengan cara berkata kepada sang mufti atau ulama, “Ayahku atau saudaraku atau suamiku atau si fulan telah menzhalimi aku, apakah perbuatan itu boleh bagi dia? Dan bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari (kezhaliman)nya serta mendapatkan kembali hakku dan mencegah kezhalimannya?” atau yang semisal itu. Maka, perbuatan seperti ini adalah boleh hukumnya untuk suatu kepentingan tertentu. “Walaupun, ” ustadz tadi menambahkan, “yang lebih hati-hati dan lebih baik adalah dengan mengatakan, ‘Apa pendapatmu tentang seorang pria atau seorang tertentu atau suami yang kondisinya seperti ini?’ Karena tanpa menyebut nama pun sebenarnya kasusnya sudah bisa diutarakan dengan jelas. Tetapi, menunjuk secara langsung pun hukumnya boleh “Pernah pada zaman Rasulullah terjadi, Hindun bin ‘Utbah berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah pria yang sangat kikir dan sesungguhnya ia tidak memberi nafkah yang dapat mencukupiku dan anakku, kecuali apa yang aku ambil darinya dalam keadaan dia tidak mengetahuinya?’ Maka Rasulullah menjawab, ‘Ambillah apa yang cukup buat kamu dan anakmu dengan cara yang baik.’ Hadits ini muttafaqun alaih, artinya diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.” Sebenarnya ada beberapa point lainnya yang dijelaskan oleh ustadz tadi. Namun aku keburu melamun, mereka-reka sendiri. Kelihatannya, sebagian besar alasan ghibah di atas adalah dalam rangka mencari kemaslahatan. Bukan sekedar berasyik-asyik menggosipi seseorang tanpa niat perbaikan apapun. Jangankan niat perbaikan, malah boleh jadi kita bergosip ria dengan membawa hawa dendam dan kebencian. Atau jangan-jangan turut bergembira dengan tersingkapnya aib sahabat kita. “Ada beberapa alasan mengapa biasanya kita tergelincir untuk bergosip atau bergunjing, yang semua alasan itu tidak termasuk dalam kriteria menggunjing yang dibolehkan, ” sambung ustadz tadi. “Antara lain, kita menggunjing karena sedang menghilangkan rasa sebal kepada yang digunjing, atau karena sedang mendukung teman yang kebetulan lawan dari yang digunjing, atau merasa sedang dimusuhi oleh orang yang digunjing. Bisa juga menggunjing semata-mata karena dengki. Atau jangan-jangan kita bergunjing sekedar bergurau. “Jadi, mulai sekarang, sebelum memulai pembicaraan tentang orang lain, mari kita ukur terlebih dahulu boleh tidaknya dengan menggunakan kriteria-kriteria tadi.”
Entah mengapa, engkau memilih untuk tidak bercerita. Padahal, sebagaimana kudengar isteriku bercerita, engkau tercekat ketika mengunjungi rumah salah seorang teman TK mu. Apakah karena telah kau temukan dunia lain di luar dunia kecilmu? Ya, aku, ayahmu, tahu, engkau pasti tak pernah menyangka bahwa kawan bermainmu itu tinggal di rumah luar biasa sederhana. Di ruang tamunya terhampar alas tidur tipis, sementara berbagai macam barang loakan berserakan. Aku tahu engkau terperanjat, karena mungkin selama ini engkau tinggal di rumah nan lapang, dengan segala barang yang berkecukupan. Sayangku, barang kali selama ini engkau menduga bahwa setiap rumah adalah seperti rumahmu. Bahwa setiap segala fasilitas yang biasa kau nikmati juga dinikmati oleh kawan-kawanmu. Engkau terheran-heran, ya, aku bisa mengerti. Dalam rentang usiamu yang begitu muda, mungkin sulit bagimu untuk memahami mengapa ada anak yang begitu tidak memiliki apa-apa. Rumah buruk yang kau saksikan sebagai tempat tinggal sahabatmu itupun bukanlah rumahnya. Mereka hanya meminjamnya, dengan membayar pula. Kami, orang dewasa, menyebut itu mengontrak. Mungkin sulit bagimu memahami, bahwa sekolah bagi sebagian sahabatmu adalah suatu kemewahan. Jangankan jutaan rupiah, angka ratusan ribu pun terdengar mengerikan bagi mereka. Mungkin tak terbayang olehmu, anak sebayamu harus merelakan waktu bermainnya untuk mengais-ngais sampah, mencari barang-barang bekas yang masih dapat dijual kembali dengan harga tidak seberapa. Mungkin kau akan bertanya, mengapa? Maaf sayangku, aku tak hendak mengajakmu tenggelam dalam filosofi yang rumit ini. Biarlah kau sekedar memahami terlebih dahulu, bahwa ada kenyataan-kenyataan lain yang selama ini mungkin luput dari keseharianmu. Biarlah. Aku tak hendak memaksamu. Inginkah kuceritakan kisah anak-anak rimba yang berjalan-jalan di kota? Ini adalah cerita yang ayah baca dari tulisan tante Helvy, tentang Butet Manurung. Tante Butet adalah sahabat ayahmu ketika SMA. Tante Butet sudah beberapa lama tinggal di pedalaman hutan, mendidik anak-anak rimba suku anak dalam. Apa yang dikatakan anak-anak rimba yang selama ini tinggal di pedalaman hutan, ketika mereka berjalan-jalan di kota? Saat jalan berkeliling, mereka melihat orang-orang yang berdesak-desakan di dalam bis kota hingga bis tersebut cenderung miring. Di sisi lain, mereka melihat banyak pula mobil mewah berseliweran tanpa penumpang alias hanya satu orang dalam satu mobil. Dengan polos mereka bertanya pada tante Butet yang bunyinya kurang lebih begini, “Bu Guru, mengapa orang-orang itu harus berdesak-desakan dalam kendaraan roda empat yang besar itu, hingga susah bernapas?” “Bu Guru, mengapa orang yang lain naik mobil kosong itu sendirian? Padahal banyak tempat bisa digunakan untuk orang-orang yang berdesakan itu?” Tante Butet menjelaskan pada anak-anak didiknya tentang masyarakat kota yang berbeda, termasuk dalam hal ekonomi. Ada yang mampu membeli mobil pribadi dan ada yang hanya mampu naik bis beramai-ramai. Ada yang mobil pribadinya bahkan lebih dari tiga. “Boleh kami minta mobil pribadi itu satu?” tanya salah seorang muridnya. Dan sebelum Butet menjawab, sang murid sudah berseru meminta mobil pada seorang pengendara mobil di perempatan lampu merah. “Minta mobilnya satu saja!” teriaknya dengan bahasa rimba. “Minta, untuk dipakai orang banyak!” Sang pengemudi kebingungan. Tante Butet menggeleng, membelai kepala murid-muridnya. “Jangan, ” katanya tersenyum. “Orang-orang kota tidak adil!” “Orang kota tidak suka bersama!” kata muridnya yang lain. “Mengapa naik mobil sendiri? Kenapa tidak mengajak yang lain?” “Ya, kenapa tidak berbagi?” “Saya lebih suka di hutan!” Begitulah. Anakku, mungkin engkau bertanya, mengapa Allah berkehendak membedakan pembagian nikmat? Aku menjawab, agar engkau dapat mensyukuri apa yang engkau miliki, dan agar engkau dapat berbagi. Allah hendak mengajarkan, banyak cara meraih kemuliaan. Kemiskinan - biarlah kita menyebutnya demikian - bukanlah suatu aib. Dengan kesabaran dan senantiasa prasangka baik kepadaNya, adalah jalan menuju kemuliaan. Kekayaan pun demikian. Orang kaya tidaklah dengan sendirinya mulia. Kerelaannya untuk berbagilah yang menjadi jalan menuju kemuliaan. Ah, mungkin engkau tidak terlalu memahami apa itu kemuliaan. Baiklah kujelaskan secara lebih sederhana. Apa yang kau rasakan setiap kali engkau berbuat baik, entah membantu ibumu, atau mengalah dengan adikmu, atau berbagi mainan dengan kakakmu? Engkau tentu merasakan kebahagiaan. Jika perbuatan-perbuatan baikmu telah menjadi kebiasaan bagimu, itulah kemuliaan. Itulah yang Allah harapkan darimu. Dan akupun tersenyum ketika engkau merelakan sepatumu yang sudah kekecilan untuk dipakai oleh sahabatmu itu.
|
| | Berda’wah dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui lisan dan melalui tulisan. Apapun bentuk dan gaya da’wahnya, tentu perlu dilakukan persiapan melalui berbagai pelatihan. Pelatihan jurnalistik diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan para jurnalis muda muslim agar dapat melakukan da’wah secara tulisan. Dengan mengambil tempat di Masjid Al Muhajirin, Kompleks Jatikramat Indah I, Bekasi, kegiatan pelatihan ini berlangsung mulai dari pukul 08.15 dan selesai pada pukul empat sore, pada ahad kemarin, 25 Mei 2008. Acara diikuti oleh utusan dari 3 sekolah dan 3 kelompok Remaja Masjid dengan total jumlah peserta 32 orang. Sekolah-sekolah tersebut adalah Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Amal Jatimakmur, SMK Bina Insan Kamil Jatikramat, SMUN 11, Remaja Masjid At Taqwa Kompleks IKIP Jatikramat, Remaja Masjid An Nuur kompleks PAM Jatikramat, dan Remaja Masjid Al Muhajirin Kompleks Jatikramat Indah I sebagai tuan rumah. Acara yang tidak dipungut biaya ini dibagi menjadi empat sesi. Setelah diawali dengan pembukaan dan kata sambutan dari ketua panitia, Lala Latifah dari Remaja Masjid Al Muhajirin, sesi pertama, peserta mendapat materi motivasi berjudul Mengapa Kita Menulis yang disampaikan oleh Sabrul Jamil. Pada sesi kedua materi lebih ke arah teknis yaitu Agar Menulis Mengarang Bisa Gampang yang disampaikan oleh pembicara yang sama. Usai makan siang dan sholat Dzhuhur, pada sesi ketiga materi semakin menajam, yaitu Manajemen Mading dan Penerbitan Sekolah, yang disampaikan oleh Yudhanti Dwi Lestari. Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir. Selain itu, sepanjang materi, peserta juga diberi tugas-tugas kecil seperti membuat reportase singkat kegiatan tersebut, serta mengembangkan sebuah tulisan dari ide singkat yang disampaikan oleh Pembicara. Adapun sesi keempat para peserta diminta untuk menyelesaikan pembuatan sebuah mading dalam waktu 1 jam, diawali dengan pembentukan struktur dan anggota tim, penentuan nama Mading beserta motonya. Bahan dan alat-alat telah disediakan oleh panitia. Di akhir acara, terpilih mading Metafora yang dibuat oleh MA Miftahul Amal sebagai mading terbaik. Acara diakhiri pada pukul empat sore, ba’da Ashar, ditandai dengan penandatanganan deklarasi pembentukan Jaringan Penerbitan Sekolah dan Remaja Masjid. Rencananya, jaringan ini akan tetap saling berkomunikasi untuk terus meningkatkan skill dan kemampuan jurnalistik mereka. Rencananya, pada bulan Juni nanti akan diselenggarakan acara yang sama, dengan peserta dari sekolah-sekolah yang berbeda untuk semakin mengembangkan jaringan penerbitan ini. |
Salah satu kebiasaan saya adalah membaca berbagai buku, artikel dan majalah yang memperkaya jiwa. Saya memilih melakukan hal ini dari pada menghabiskan waktu sekedar membaca berita selebritis. Kali ini artikel di layar monitorku berasal dari salah seorang teman di milis alumni kampus. Kubaca pelan-pelan, karena dari awal isinya sudah menawarkan kedalaman. Berikut isi imel tersebut, yang ternyata dikutip dari SWA 16/XX1I/10-23 Agustus 2006. Sekelompok alumni sebuah universitas mengadakan reuni di rumah salah seorang profesor favorit mereka yang dianggap paling bijak dan layak didengarkan. Satu jam pertama, seperti umumnya diskusi di acara reuni, diisi dengan menceritakan (baca: membanggakan) prestasi di tempat kerja masing-masing. Adu prestasi, adu posisi dan adu gengsi, tentunya pada akhirnya bermuara pada berapa $ yang mereka punya dan kelola, mewarnai acara kangen-kangenan ini. Jam kedua mulai muncul guratan dahi yang menampilkan keadaan sebenarnya. Hampir semua yang hadir sedang stres karena sebenarnya pekerjaan, prestasi, kondisi ekonomi, keluarga dan situasi hati mereka tak secerah apa yang mereka miliki dan duduki. Bahwa dolar mengalir deras, adalah sebuah fakta yang terlihat dengan jelas dari mobil yang mereka kendarai sertamerek baju dan jam tanganyangmereka pakai. Namun dilain pihak, mereka sebenarnya sedang dirundung masalah berat, yakni kehilangan makna hidup. Di satu sisi mereka sukses meraih kekayaan, di sisi lain mereka miskin dalam menikmati hidup dan kehidupan itu sendiri. They have money but not life. Sang profesor mendengarkan celotehan mereka sambil menyiapkan seteko kopi hangat dan seperangkat cangkir. Ada yang terbuat dari kristal yang mahal, ada yang dari keramik asli Cina oleh-oleh salah seorang dari mereka, dan ada pula gelas dari plastik murahan untuk perlengkapan perkemahan sederhana. "Serve yourself, " kata profesor, memecah kegerahan suasana. Semua mengambil cangkir dan kopi tanpa menyadari bahwa sang profesor sedang melakukan kajian akademik pengamatan perilaku, seperti layaknya seorang profesor yang senantiasa memiliki arti dan makna dalam setiap tindakannya. "Jika engkau perhatikan, kalian semua mengambil cangkir yang paling mahal dan indah. Yang tertinggal hanya yang tampaknya kurang bagus dan murahan. Mengambil yang terbaik dan menyisakan yang kurang baik adalah sangat normal dan wajar. Namun, tahukah kalian bahwa inilah yang menyebabkan kalian stres dan tidak dapat menikmati hidup?" sang profesor memulai wejangannya. "Now consider this: life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided, " kali ini kalimatnya mulai menekan hati. "So, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead, " demikian ia berkata sambil mempersilakan mereka menikmati kopi bersama. Sewaktu membaca e-mail yang dikirim rekan saya Ucup, begitu panggilan akrabnya, saya ikut tertegun. Sesederhana itu rupanya. Profesor yang bijak selalu membuat yang sulit jadi mudah, sedangkan politikus selalu membuat yang mudah jadi sulit. Betapa banyak di antara kita yang salah menyiasati hidup ini dengan memutarbalikkan kopi dan cangkir. Tak jelas apa yang ingin kita nikmati, kopi yang enak atau cangkir yang cantik. Ada tiga tipe pekerja (baca: profesional danpengusaha) yang sering kita lihat dalam menyiasati kopi dan cangkir kehidupan ini. Pertama, pekerja yang sibuk mengejar pekerjaan, jabatan yang akhirnya hanya bertumpu pada kepemilikan jumlah dan kualitas cangkir kehidupan. Paradigmanya sangat sederhana, semakin banyak cangkir yang dipunyai, semakin bercahaya. Semakin bagus cangkir yang dimiliki tidak akan mengubah rasa kopi menjadi enak. Fokus hidup hanya untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas cangkir. Ini yang menyebabkan terus terjadinya persaingan untuk menambah kepemilikan. Sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. Kala yang lain bisa membeli mobil mewah, ia pun terpacu mendapatkannya. Alhasil, tingkat stres menjadi sangat tinggi dan tak ada waktu untuk membenahi kopi. Semua upaya hanya untuk bagian luar, sedangkan bagian dalam semakin ketinggalan. Kedua, pekerja yang menyadari bahwa kopinya ternyata pahit -artinya hidup yang terasa hambar; penuh kepahitan, dengki dan dendam; serta tak ada damai dan kebahagiaan- mencoba menutupnya dengan menyajikannya dalam cangkir yang lebih mahal lagi. Pikirannya juga sangat mudah, kopi yang tidak enak akan terkurangi rasa tidak enaknya dengan cangkir yang mahal. Rasa kurang dicintai rekan kerja, dikompensasi dengan mengadopsi anak asuh dan angkat. Tak merasa diperhatikan, dibungkus dengan memberikan perhatian pada korban gempa di Yogyakarta. Tak menghiraukan lingkungan, ditutup halus dengan program environmental development yang harus diresmikan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup. Tak memperhatikan orang lain dengan tulus, dibalut dengan program community development yang wah. Kalau tidak hati-hati, akan muncul pengusaha kaum Farisi yang munafik bagai kubur bersih, tapi di dalamnya sebenarnya tulang tengkorak yang jelek dan bau. Ketiga, ada pula pekerja yang berkonsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. Tipe ini tak terlalu pusing dengan penampilan cangkir. Pakaian yang mahal dan eksklusif tak mampu membuat borok jadi sembuh. Makanan yang mahal tak selalu membuat tubuh jadi sehat, malahan yang terjadi acap sebaliknya. Fokus pada kehidupan dan hidup menyebabkan ia dapat santai menghadapi hari-hari yang keras. la tak mau berkompromi dengan pekerjaan yang merusak martabat, sikap dan kebiasaan. Menyuap yang terus-menerus dilakukan hanya akan membuat dirinya tak mudah bersalah kala disuap. Fokus pada kopi yang enak, membuat ia tak mudah menyerah pada tuntutan pekerjaan, tekanan target penjualan yang mengontaminasi karakternya. Baginya, ini adalah kebodohan yang tak pernah dapat dipulihkan. Profesor hidup lain lagi pernah berpetuah, "Take no thought for your life, what you shall eat or drink, nor your body what you shall put on. Is not the life more than meat and the body than raiment?" Kalau kita tidak sadar, kita bakal terjerembap: mengkhawatirkan cangkir padahal seharusnya kita fokus pada kopi. Imel itu diakhiri dengan seruan sederhana Enjoy your coffee, my friend!. Saya pun merasakan adanya sindiran halus dari imel tadi. Karir kadang membuat seseorang menyingkirkan segalanya, yang dianggap tidak penting bagi karir, atau bahkan dirasakan menyita waktu dan mengganggu. Terkadang sekedar say hello kepada orang tua yang sudah membesarkannya pun sering kali seseorang lupa. Masih sambil menatap kosong ke layar monitor, Saya pun mengangkat ponsel, dan menelepon ibu. Tiba-tiba saja saya menyadari bahwa ternyata ada kerinduan yang selama ini saya abaikan.
Seorang remaja cacat mengajariku tentang salah satu nikmatMu, ya Allah. Allah Maha Pemberi Rizki, demikian ujarnya tanpa kata.
Dia memang mengajariku tanpa keindahan bertutur seorang profesional. Tanpa kemegahan sebuah ruang seminar ber-AC. Tanpa kenecisan stelan jas yang licin, dibalut dengan dasi menawan. Ia mengajariku tanpa makalah terketik rapi, dengan kehalusan cetakan sebuah printer laser. Dan aku memang tidak perlu menaifkan diri dengan membatasi ruangku untuk belajar.
Siang itu, halaman rumahku usai basah oleh rinai gerimis. Tertatih-tatih ia datang, satu kakinya menopang seluruh tubuhnya. Dengan ransel kumal, dan wajah penuh usapan peluh, ia bertutur lugu, meminta maaf sekiranya telah mengganggu ketenangan hari liburku.
Ya Allah, ia datang tidak untuk mengemis, sebagaimana sebelumnya aku duga! Bahkan aku sempat mencurigai aksi penipuan dari tubuh ringkihnya. Dari ransel kumalnya dikeluarkan beberapa barang. Sebuah hiasan Dora Emon, sebagai wadah gantungan kunci, ditawarkannya kepadaku. Ada label harga di belakangnya. Sempat terlintas di benakku, sedikit terlalu mahal. Tapi aku tetap membeli. Mulanya karena dorongan rasa kasihan. Namun setelah lebih jauh kupikir, toh aku cukup sering menghambur-hamburkan dana lebih mahal dari harga yang seharusnya kubayar, bukan untuk orang-orang seperti mereka. Aku hamburkan uangku untuk mereka para pemilik swalayan, yang sebenarnya telah kekenyangan.
Seberapa sering, misalnya, kuboroskan dana untuk membeli kertas catatan dalam bentuk loose leaf, padahal kertas buku catatan biasa cukup memadai untuk itu? Apa salahnya jika sekali-kali kuboroskan dana untuk mereka yang memang membutuhkan? Demikian pikirku, sedikit mengandung sinisme kesenjangan sosial.
Ya Allah, aku belajar darinya tentang makna keimanan kepadaMu. Seluruh geraknya pada saat itu seolah mengatakan kepadaku, Allah itu Maha Baik, Ia Maha Pemberi Rizki. Pelajaran apa lagi yang lebih utama selain pelajaran tentang sifat-sifatMu ya ilahi. Lalu, ilmu mana lagi yang lebih bermanfaat selain ilmu yang menancap langsung di sanubari seorang hamba?
Untuk seseorang dengan kondisi tubuh seperti itu, sesungguhnya bisa saja ia menjadikan kecacatannya itu sebagai alasan untuk menjadi pengemis. Lebih buruk dari itu, ia dapat terjerumus meratapi diri berkepanjangan, seraya menyalahkan nasib, lingkungan, bahkan Allah yang menciptakannya.
Bukankah banyak saudara kita yang berprilaku demikian. Bahkan mereka menciptakan cacat-cacat artifisial, untuk memancing rasa iba orang lain, dan menjustifikasi profesi mereka sebagai pengemis.
Betapa banyaknya pemuda yang dibekali fasilitas berlimpah, namun menghamburkan fasilitas dan waktu yang mereka miliki. Seolah mereka di akhirat kelak tidak akan ditanya, ‘dan masa mudamu, kemana engkau habiskan?’
Betapa banyak di antara mereka yang begitu ringkih, senantiasa mengeluh setiap kali mendapati cobaan meski hanya sehalus angin sepoi-sepoi.
Namun remaja cacat tadi tidaklah demikian. Ia tidak mengemis. Ia memilih berjualan, sehingga uang yang kelak diperolehnya adalah buah dari jasa. Artinya, ada sesuatu yang ia berikan kepada orang lain sebagai imbalan uang yang ia terima.
Seolah ia hendak mengatakan, saya tidak ingin menerima sesuatu yang tidak pantas saya terima. Saya tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hak saya. Saya tidak ingin memperoleh sesuatu tanpa memberikan balasan yang setimpal untuk itu. Ia sepertinya yakin, begitulah Allah menghendaki setiap hamba dalam mengejar rizki.
Ketidakyakinan, sebagai antitesis keyakinan, terhadap Engkau Sang Pemberi Rizki, betapa telah melahirkan begitu banyak masalah tak berkesudahan di muka bumi ini.
Ketidakyakinan, sebagai bentuk kelemahan iman, betapa telah memudarkan idealisme para pemuda, membelokkan ketajaman berpikir para cendekia, bahkan meluluhkan kewibawaan para ulama. Betapa para penguasa dari masa ke masa menghinakan diri dan jabatannya di hadapan uang dan benda-benda.
Ya Allah, adakah ini skenarioMu, karena Engkau tahu ada yang telah tergelincir di hati ini?
Mungkin akhir-akhir ini hamba telah larut dalam ketidakyakinan bahwa Engkau yang telah mengatur rizki setiap hamba.
Mungkin Engkau tahu betapa hamba tenggelam dalam kekhawatiran yang tidak semestinya, sehingga abai terhadap agenda permasalahan umat. Mungkin ini teguran dariMu, agar potensi yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba tidak habis dibaktikan hanya untuk menghasilkan benda-benda. Betapa dalam syukurku, yang telah mencegah hamba larut dalam perlombaan dunia.
Ataukah ini caraMu mengajarkan hamba tentang etos kerja? Setelah tumpukan buku dan makalah tidak juga menyulutkan semangat hamba dalam mengatasi aneka tribulasi?
Ya Allah, maafkan hamba yang terkadang iri dengan mereka yang begitu mudah meraup harta benda, tanpa harus banyak pikir dan kerja. Ampuni hamba yang terkadang mempertanyakan kehendakMu dalam membagi nikmat.
Dawamku syukurku atas teguranMu, agar ia dapat berbuah menjadi semangat untuk berbuat. Agar ia dapat menyuburkan kembali hati hamba yang kaku dan keras, sehingga dapat senantiasa teduh di tengah deraan cobaan yang panas.
Sampaikan doa hamba kepada mereka yang tetap menjaga diri dari maksiat, dari menghisap uang rakyat, dan tetap memilih pekerjaan halal, meski di mata manusia mereka tidak dipandang berharga.
Hampir sepuluh tahun yang lalu, saya pernah mengikuti suatu majelis ta’lim di dekat rumah. Majelis Ta’lim ini agak unik, karena yang memberikan taushiah adalah seluruh anggota majelis, bergantian setiap pekan. Materi taushiah tidak ditentukan alias diserahkan kepada pemberi materi. Usai disampaikan kami semua mendiskusikan isi materi tadi.
Suatu hari, datanglah seorang pemuda lulusan pesantren modern Gontor. Pemuda tadi kebetulan sedang menginap di rumah salah seorang anggota majelis. Dengan hormat, kami mempersilakan beliau untuk menyampaikan taushiah.
Sampai sekarang, saya masih teringat esensi-esensi ceramah beliau. Beliau menuturkan, kehidupan di pesantren sungguh nikmat, selama kita mampu menempatkan diri dengan tepat. Tantangan sesungguhnya adalah ketika para santri telah terjun ke dunia nyata.
Jika di pesantren ia mampu menghadirkan kekhusyuan setiap kali sholat malam, maka di luar pesantren hal itu sulit dilakukan. Jangankan untuk khusyu, untuk dapat bangun menegakkan sholat malam saja sudah luar biasa berat.
Jika di pesantren kegiatan menuntut ilmu dapat dilaksanakan secara rutin, hal itu lebih karena mengikuti jadual. Tantangan sesungguhnya adalah ketika di luar tembok, apakah seorang santri masih mampu terus secara rutin menimba ilmu?
Banyak hal lain yang disampaikan pemuda lulusan pesantren tersebut. Namun sepotong penuturan di ataslah yang terekam dengan baik di ingatan saya.
Pembaca yang baik. Penuturan pemuda yang resah tadi, betapapun, merupakan indikasi suatu kebaikan. Ia mampu memelihara kegelisahan, untuk dapat menjaga ketajaman rasa dan kepekaan nuraninya. Setidaknya, ia akan selalu menyadari jika sesuatu yang berharga hilang dari hidupnya.
Saya pribadi sering mendapatkan pertanyaan, dan sering menanyakan kepada diri sendiri, bagaimanakah cara yang efektif agar dapat menjaga stabilitas keimanan dan keteraturan beribadah. Pertanyaan itu sendiri sudah menunjukkan kepedulian si penanya terhadap kualitas dirinya di mata Allah, dan sungguh patut dihargai. Karena, kenyataannya, banyak orang lain yang sudah tidak peduli apakah dirinya sudah baik di mata Allah ataukah belum.
Kebanyakan kita masih sangat dipengaruhi lingkungan. Jika lingkungannya baik, kita pun ikut baik. Namun jika lingkungannya rusak, kita boleh jadi ikut tercemar.
Di lingkungan yang obrolannya terjaga, kita pun ikut menjaga kata-kata. Namun jika lingkungan asyik bergosip, mengumbar kata-kata tak berarti, kita juga ikut larut. Pada saat mengikuti sholat malam berjamaah, kita bisa terbawa menitikkan air mata, karena mayoritas jamaah terisak-isak menangis mendengarkan lantunan ayat-ayat suci AlQuran. Namun di rumah, yang anggota keluarganya malas menegakkan sholat malam, kita juga ikut malas sholat malam.
Di lingkungan yang materialistis, yang mengukur sukses dan bahagia hanya berdasarkan prestasi bendawi, kita pun ikut menjadi obsesif terhadap benda-benda. Keresahan kita bukan diukur dari jauh dekatnya kita dengan Allah, namun dari seberapa banyak benda-benda duniawi yang kita kumpulkan.
Menyadari besarnya pengaruh lingkungan terhadap diri kita, Rasul Saw mengingatkan untuk berhati-hati dalam memilih teman. Pesan ini, jika diterjemahkan lebih luas lagi, mengisyaratkan perlunya kita berhati-hati memilih lingkungan pergaulan. Agaknya pesan Rasul ini berlaku untuk kebanyakan manusia.
Pada kenyataannya, terkadang kita seolah tidak memiliki kesempatan untuk memilih. Misalnya, tak mungkin seorang santri memilih seumur hidup berada di pesantren, dan tidak turun gunung mengamalkan ilmunya. Pada situasi ini, seseorang harus memiliki kemampuan untuk menguatkan diri dari pengaruh lingkungan.
Lebih dari sekedar tidak terpengaruh, bahkan setiap muslim sebenarnya dituntut untuk mampu mempengaruhi lingkungannya agar sesuai dengan nilai-nilai syar’i. Inilah yang disebut berda’wah.
Namun da’wah tidaklah harus diterapkan secara formal, di mimbar-mimbar atau dengan ceramah. Sebagai contoh, bila Anda ingin seseorang tidak bergunjing dan menjelek-jelekkan keburukan orang lain, mungkin Anda tidak perlu berceramah panjang lebar tentang larangan berghibah. Tetapi Anda cukup menanggapi sekilas sambil perlahan-lahan mengalihkan pembicaraan tanpa disadari oleh lawan bicara Anda. Sehingga lawan bicara Anda itu tidak sempat lagi berghibah di depan Anda, sebaliknya dengan kemampuan Anda dia malah sibuk membicarakan hal lain yang bermanfaat tanpa disadarinya.
Di sini peranan Anda adalah bagaimana mengalihkan pembicaraan dengan cantik dan manis tanpa ada rasa tersingung dari lawan bicara Anda.
Inilah seninya dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Terkadang untuk menghentikan kemungkaran, tidak dibutuhkan bahasa verbal atau taushiyah formal. Cukup dengan surut ke belakang dan tidak melakukannya, seseorang seringkali bisa mencegah kemungkaran dengan efektif dan efisien.
Bagaimanakah membangun kesadaran diri?
Saya kira, kita dapat belajar dari sistem kerja jasmani kita. Tatkala lapar, kita makan. Merasa kotor, kita mandi membersihkan diri. Jasmani senantiasa sensitif jika ada sesuatu yang ‘salah’.
Sensitifitas seperti itulah yang perlu kita bangun pada rohani kita. Kita perlu lebih sering mendengar sinyal dari ruhani, karena sesungguhnya ia selalu berkomunikasi dengan kita, setiap kali ada sesuatu yang salah.
Ilmu, kata Sayyidina Ali, lebih utama ketimbang harta. “Ilmu menjagamu, sedangkan harta, engkaulah yang harus menjaga. Harta berkurang jika dibelanjakan, sedangkan ilmu justru tumbuh subur jika ‘dibelanjakan’ - yakni diajarkan kepada orang lain.” Saat ini banyak pembicara seminar yang mendapat bayaran gede setiap kali memberikan ceramah. Pihak penyelenggara tidak merasa rugi membayar mahal, demikian pula para peserta. Mereka menghargai ilmu yang dicurahkan pembicara tadi. Jadi, pernyataan Imam Ali di atas terasa sekali relevansinya, bukan? Tapi penghargaan terhadap ilmu memang masih belum merata di tubuh umat Islam. Masih banyak yang lebih menghargai makanan yang diragukan kadar gizinya, ketimbang membeli buku-buku untuk gizi otak mereka, atau megnhadiahkan ensiklopedia mini untuk anaknya. Ensiklopedia? Anda tentu tahu itu. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, enkykliospaideia yang artinya “pengajaran menyeluruh”. Orang yang disebut-sebut sebagai orang pertama yang menyusun ensiklopedia adalah Speusippus (407-339 SM), keponakan Plato yang orang Yunani itu. Ensiklopedia dimaksudkan sebagai rujukan yang mencakup seluruh pengetahuan paling mutakhir, atau bisa juga sekelompok disiplin ilmu. Keterangan ini saya kutip dari kumpulan tulisan Selisik-nya Putut Wijanarko yang diberi judul Elegi Gutenberg. Masih dari buku yang sama, dari tradisi Romawi, upaya penulisan sudah dimulai sejak 183 SM. Sumbangan terpenting adalah karya Pliny yang Tua, Natural History, yang ditulis pada 23-79 M. Ensiklopedia ini mencakup 2.500 bab dan 37 jilid, dan menurut Pliny sendiri, mengandung 20.000 fakta yang disarikan dari 2.000 karya tak kurang dari 100 pengarang. Hebatnya, ensiklopedia ini menjadi rujukan ensiklopedia lain sampai 15 abad kemudian. Bagaimana dengan dunia Islam sendiri? Secara kasar, tulis Macropaedia Britannica, ensiklopedia-ensiklopedia awal dalam bahasa Arab dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama, ensiklopedia yang memang ditujukan kepada orang yang memang ingin memperoleh informasi yang lengkap dan memanfaatkan pengetahuan di dalamnya. Kedua, ensiklopedia yang ditujukan kepada para administrator negara. Ensiklopedia pertama yang betul-betul ensiklopedia dari Dunia Islam adalah karya Ibn Qutaybah (828-829), seorang pengajar dan ahli filologi, berjudul kitab ‘Uyun Al Akhbar. Akan tetapi, karya Al Khawarizmi, Mafatih Al-Ulum, yang dikompilasi pada 975-977 malah lebih sering dianggap sebagai ensiklopedia pertama dari Dunia Islam. Dia membagi karya ke dalam dua bagian: pengetahuan asli (fiqih, filsafat skolastik, tata bahasa, seni puisi, sejarah) dan pengetahuan asing (filsafat, logika, kedokteran, aritmetika, geometri, astronomi, musik, mekanika, alkimia). Masih ada karya lain, yaitu karya Al-Nuwairi (1272-1332), sejarahwan asal Mesir, mengompilasi ensiklopedia terbaik dari zaman Mamluk, Nihayah Al Arab fi Funun Al-Adab, dalam 9.000 halaman. Sementara itu, Masalik Al-Abshar karya Al-’Umari (1301-1348) sangat menekankan pada sejarah, geografi dan puisi. Lalu Ibsyihi (1440) menyusun Mustatraf yang mencakup agama Islam, perilaku, hukum, kualitas spiritual, kerja, sejarah alam, musik, makanan dan kedokteran. Dalam 2.000 tahun terakhir ini, demikian catatan Macropaedia Britannica, telah ada lebih dari 2.000 ensiklopedia di seluruh dunia. Tidak ada sebuah perpustakaan pun yang memiliki semua ensiklopedia itu. Kalaupun mungkin, dibutuhkan 2,5 kilometer untuk semua ensiklopedia itu. Di jaman internet seperti sekarang ini, para peselancar di dunia maya mempunyai sumber pustaka yang luar biasa hebat, yang disebut search engine atau mesin pencari. Masukkan saja kata yang ingin Anda cari, tekan enter, dan siap-siap menerima muntahan data yang luar biasa banyak. Saking banyaknya, kita akan gelagapan sendiri untuk mencernanya. Ketika membantu isteri menyiapkan materi tentang ma’rifatul Islam, misalnya, saya memasukkan kata itu di kotak yang disediakan oleh Google (salah satu search engine paling populer), dan muncullah puluhan link yang berkaitan dengan tema tersebut. Kita tinggal mengklik link-link tadi, dan mencari pembahasan yang sesuai dengan kebutuhan kita. Tidak hanya berisi berbagai informasi teks, mesin pencari seperti Google bahkan mempunyai database gambar. Sambil iseng, saya pernah memasukkan kata Deddy Mizwar. Hasilnya adalah bermunculannya foto-foto aktor tersebut di monitor PC saya, termasuk di dalamnya foto Haji Husin, ketika bermain di Lorong Waktu. Meski internet semakin populer, namun ensiklopedia dalam bentuk buku tetaplah diminati. Bahkan saat ini sudah bertebaran ensiklopedia-ensiklopedia mini yang tipis, dengan warna-warni cerah yang menarik perhatian. Harganya pun relatif terjangkau, kurang lebih setara dengan beberapa mangkuk bakso. (Jadi, kalau Anda sanggup ‘berpuasa’ bakso selama beberapa hari, Anda bisa menghadiahkan orang yang Anda cintai, atau diri Anda sendiri, dengan satu ensiklopedia berharga). Tema-temanya pun beragam, seperti tentang tubuh manusia, klasifikasi hewan, kendaraan, alam semesta, berbagai fenomena di alam dan sebagainya. Kita bisa belajar, tanpa harus merasa belajar. Salah produsen susu instant malah menyisipkan hadiah ensiklopedia menarik di dalam kardusnya. Ada dua belas judul: Tokoh Besar, Keajaiban Dunia, Hewan Laut, Petualangan, Mamalia, Atlas Dunia, Dinosaurus, Transportasi, Teknologi, Ruang Angkasa, Tubuh Manusia, dan Sains di Sekitar Kita. Kualitas isinya pun boleh dipuji. Cukup banyak informasi sederhana yang bahkan orang dewasa pun belum tentu tahu (termasuk saya). Ensiklopedia adalah bagian dari ekspresi kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Islam, sebagai salah satu peradaban besar yang pernah memimpin dunia, turut memberikan sumbangan di dalamnya, dan bahkan diyakini memberikan dasar-dasar bagi perkembangan sains modern sekarang ini. Sayangnya, kebanyakan umat Islam saat ini lebih senang mengisi otaknya dengan berbagai informasi tak berguna, seperti gosip tentang selebritis, dan urutan cerita-cerita sinetron yang tidak bermutu. Namun Saya termasuk yang percaya bahwa Islam akan bangkit kembali. Ketimbang melamun membayangkan kebesaran masa lalu, atau terus menerus meratapi masa kini dan mengkhawatiri masa depan, bukankah lebih menyehatkan jiwa jika kita turut andil dalam membangun kembali kejayaan Islam? Anda setuju? (dimuat di internida.mifta.org)
Saya pernah berkesempatan mempresentasikan sistem informasi rumah sakit di kawasan Ungaran dan Ambarawa. Banyak pengalaman menarik. Namun, bagi saya, yang paling meninggalkan kesan adalah salah satu obrolan kami dengan direktur salah satu rumah sakit tersebut. Pak direktur yang dokter tersebut terlihat sangat perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia. Salah satu buktinya adalah upaya beliau ‘menyekolahkan’ seorang anak buahnya untuk mendalami ilmu rakit merakit komputer. Singkat cerita, anak buah tadi usai mengikuti training yang biayanya beliau sebutkan jutaan rupiah tersebut. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata, setelah itu, komputer-komputer yang jumlahnya tidak banyak di rumah sakit tersebut jadi lebih sering bermasalah. Ada saja komponen yang harus diganti. Di sisi lain, anak buah tadi juga membuka bisnis jual beli komputer, dengan segmen dokter-dokter dan karyawan lain di rumah sakit itu. Namun selalu saja ada masalah dengan komputer yang mereka beli. Ada saja komponen yang harus diganti. Pak direktur, pada mulanya, tidak langsung curiga. Namun akhirnya beliau melakukan cross check. Ketika suatu saat terjadi lagi masalah dengan komputer, beliau mengundang ahli komputer dari pemda. Ternyata disimpulkan bahwa komputer yang dikatakan rusak tersebut baik-baik saja. Selanjutnya bisa ditebak. Pak direktur segera mengambil langkah-langkah pencegahan, anak buah yang berkhianat tadi dimutasi ke bagian lain. Aksesnya ke ruang komputer dihalangi. Sebab, setiap kali anak buah tadi keluar dari ruang komputer, selalu ada saja komputer yang rusak. Tamatlah karir si anak buah tadi. Para langganannya juga menjadi tidak percaya lagi. Ada kenyataan mendasar yang sederhana dari cerita di atas. Kemampuan teknis semata tidak cukup sebagai syarat sukses. Moralitas, seperti amanah dan kejujuran, merupakan syarat mutlak lainnya. Jujur, amanah, tepat janji, merupakan ciri mukmin sejati. Hal ini berlaku untuk seluruh disiplin kehidupan. Saya menyebutnya sebagai bagian mutlak profesionalisme, yang berlaku dalam kehidupan keluarga, rumah tangga, pekerjaan, da’wah, politik, aktifitas sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya. Hal ini terwujud misalnya dalam soal ketepatan waktu. Jam karet dan janji yang meleset adalah cacat serius dalam profesionalisme. Dampaknya adalah memudarnya kepercayaan orang lain terhadap kita. Orang lain itu mungkin anak kita, yang diam-diam sering kecewa dengan sering mangkirnya si orang tua dari janjinya. Atau mungkin klien, yang meragukan profesionalitas kita karena terlambatnya kita menyerahkan hasil pekerjaan. Atau atasan kita, yang sering mendapati kita gagal menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Atau mungkin bawahan kita, yang menilai kita cedera janji, karena gaji yang sering terlambat, atau janji dan harapan perusahaan yang terlalu mudah diucapkan namun tak kunjung terwujud. Namun ketidakjujuran, ketidakmampuan menepati janji, terkadang bukanlah karena itikad buruk. Maksudnya, bisa jadi kita tidak mampu menepati janji karena kelemahan kita dalam mengukur diri, dan bukan bermaksud untuk bersikap curang. Misalnya, kita mungkin begitu saja berjanji kepada anak kita untuk pulang sore, hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. Kita tidak merasa perlu menengok ke agenda kerja untuk mengukur volume kerja pada hari itu. Pada episode lain, kita mungkin mudah saja menyanggupi permintaan klien, dengan harapan mendapatkan proyek, tanpa benar-benar mengukur kemampuan diri dalam menyelesaikan proyek tersebut. Atau bisa jadi kita mengiyakan saja tenggat waktu yang ditetapkan atasan, tanpa benar-benar mengetahui kesanggupan kita untuk memenuhi tenggat waktu tersebut. Dalam kasus-kasus seperti ini, mungkin kita tidak berniat ingkar janji, namun hasil akhirnya adalah sama. Kenyataan lainnya yang sering kita temui adalah mudahnya kita berlindung di balik kata Insya Allah. Kita mengucapkan hal itu bukan dengan keyakinan untuk memenuhi janji, namun justru sebaliknya, sebagai taktik untuk berkelit, karena kita pada dasarnya kurang yakin mampu memenuhi janji tersebut. Akibatnya, sering kita temui di masyarakat, jika berjanji diiringi dengan ucapan Insya Allah, akan langsung dicurigai akan tidak mampu memenuhi janji tersebut. Padahal, biarlah saya ulangi sekali lagi, Insya Allah hanya diucapkan dengan keyakinan kesanggupan untuk memenuhi janji tersebut, seraya menyadari bahwa ada hal-hal di luar kuasa kita, yang kita serahkan kepada Allah untuk memberikan jalan keluar. Seharusnya, tak perlu berjanji jika memang tak yakin sanggup memenuhi. Cukup katakan bahwa kita tak berani menjanjikan, dan jangan berlindung di balik kata Insya Allah. Kembali ke awal tulisan tentang anak buah yang tidak amanah tadi, karirnya yang kini terhenti merupakan akibat dari ketidakprofesionalannya sendiri. Caranya menjalani profesi tidak membawa keberkahan dalam hidupnya. Ketidakberkahan adalah isyarat ketidakbahagiaan. Begitulah yang akan terjadi pada setiap individu yang tidak amanah. Namun, selalu ada pintu tobat. Bukankah Allah Maha Penerima Tobat hambaNya yang serius dalam bertobat?
Telah lewat tengah malam. Demamku baru saja turun, setelah diberi obat lewat selang infus. Keringat bercucuran, seiring suhu tubuh yang menurun. Aku pun sepenuhnya terjaga. Saat itulah, kudengar suara rintihan pasien lain.
Tempat tidurku hanya dibatasi tirai tipis dengan tempat tidur bapak tua di sebelahku. Tak jelas apa yang ia ucapkan. Namun sepertinya ia memanggil-manggil nama anaknya. Aku tahu, anaknya tidur di sebelahnya, menggelar tikar yang dibawa dari rumah. Mungkin karena kelelahan seharian menunggui ayahnya, ia tak juga terjaga.
Entah sampai jam berapa ia memanggil-manggil. Namun, entah karena pengaruh obat yang mengalir bersama aliran infus, aku pun kembali tertidur.
* * * * *
Siang itu. Kembali bapak tua itu memanggil-manggil. Namun kali ini sang anak rupanya sedang di kamar mandi. Agak lama ia memanggil. Cukup lama, sehingga bapak tua itu tidak tahan, dan akhirnya buang air besar di tempat tidur. Sang anak, begitu keluar dari kamar mandi, dibantu perawat, segera membersihkan bapak tersebut. Saat itulah aroma tak sedap meruar dengan pekat. Mulai saat itu, bapak itu dipaksa untuk mau menggunakan pampers.
Karena hanya dibatasi selembar tirai tipis, aroma tak sedap dari kotoran manusia itu menembus ke tempat tidurku. Tertatih-tatih, aku bersama istriku keluar kamar, sambil menenteng tabung infus, untuk mencari udara segar. Aku tidak gusar kepada bapak itu. Namun justru iba luar biasa. Namun aku juga tak tahan dengan aroma tak sedapnya. Di ruang lobby, aku dan istriku tersenyum kecut, terdiam, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Ashar. Aroma tak sedap sudah lama berlalu. Aku sholat sambil berbaring, berharap kesembuhan hanya kepadaNya. Meresahkan biaya perawatan. Bertanya-tanya, mengapa penyakit menderaku tiba-tiba. Berpikir tentang dosa. Menebak-nebak tentang kebersihan harta. Menjaga pikiran, agar tetap berbaik sangka kepada-Nya. Dan juga bersyukur. Ya, bersyukur.
Di balik segala musibah, sesungguhnya tersembunyi berbagai nikmatNya. Kita tinggal menyibak satu dua lipatan, dan tiba-tiba menemukan mutiara yang akan membuat kita bersyukur.
Tidakkah aku mesti bersyukur, bahwa DIA Yang Maha Berkehendak masih memberikan sakit yang tidak separah bapak tua yang tidur di sebelahku? Dengan KuasaNya yang tanpa batas, tentu DIA mampu memberikan sakit apapun kepada siapapun. Namun DIA hanya memberi beban sesuai kesanggupan hambaNya.
Ada lagi yang mesti kusyukuri. Aisyah r.a. berkata, aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada suatu apa pun yang menimpa seorang mukmin, walau duri sekalipun kecuali Allah menuliskannya sebagai kebaikan atau dihapusnya kesalahan."(HR. Bukhari dan Muslim)
Ah, semoga Dia berkenan melebur dosa-dosaku yang menggunung. Setidaknya mengurangi.
Dari Abi Said dan Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda:
"Tidak menimpa seorang muslim dari lelah, tidak pula suatu sakit, tidak pula gelisah, tidak pula sedih, tidak pula suatu penyakit, tidak pula susah, sampai pada duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapuskan karenanya kesalahan-kesalahannya."(HR Bukhari)
Bukankah ujian adalah sebagai tanda dari cinta-Nya kepada hamba-Nya?
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan diberi ujian."(HR. Bukhari)
Dan orang tua di sebelahku ini, yang secara fisik telah lumpuh sebelah, dan hampir sepenuhnya tergantung kepada orang lain, bukankah sedang melewati saat-saat peleburan dosa?
Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah dari seorang muslim yang tertimpa penyakit, sakit, atau yang semisalnya, kecuali Allah SWT merontokkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana rontoknya pohon akan daun-daunnya.” (HR. Bukhari)
Dan bukankah ini merupakan ladang amal yang luar biasa bagi anak-anaknya?
Dari Abdullah bin Mas'ud katanya,
"Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah" [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9].
Bukankah bakti yang akan diberikan anak tak akan mampu menandingi kebaikan orang tuanya?
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka'bah dan ke mana saja 'Si Ibu' menginginkan, orang tersebut bertanya kepada, "Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu" [Shahih Al Adabul Mufrad No.9].
Bukankah telah masyhur dan begitu sering kita mendengar, bahwa ridho Allah tergantung kepada ridho orang tua?
"Artinya : Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)].
Jadi, tidakkah penyakit yang diderita orang tua di sebelahku ini merupakan jalan bagi Allah untuk juga memuliakan anak-anaknya, di samping jalan untuk membersihkan dosa sang bapak dan menyempurnakan amal-amal bapak itu sendiri? Bukahkah hakikah hasanat alias kebaikan yang sering kita pinta dalam doa-doa kita adalah ketika terbukanya pintu-pintu ketaatan?
Dan aku pun teringat orang tuaku, yang begitu mendengar aku dirawat di Rumah Sakit, langsung meluncur dengan kendaraan umum, dari Bogor ke Bekasi. Betapa besar kasih sayang mereka, dan betapa kecil dan lemahnya baktiku selama ini.
Aku pun teringat SMS yang bertubi-tubi dari kerabat dan sahabat, yang mendoakan kesembuhanku. Serta kunjungan yang mengalir terus, disertai berbagai buah tangan yang melimpah. Sungguh besar perhatian mereka.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar Rahman)
Ibu saya adalah seorang guru BP di salah satu SMP Negeri di pinggiran Jakarta. Sebagai guru BP, hampir setiap hari beliau membawa cerita menarik seputar pengalaman beliau menghadapi siswa-siswinya. Anda tentu tahu, sering kali siswa-siswi yang berhadapan dengan guru BP adalah siswa-siswi yang bermasalah.
Baru-baru ini beliau menceritakan satu pengalaman menarik. Salah satu dari sekian banyak pengalaman yang kurang lebih serupa. Salah seorang siswa tercatat sudah beberapa kali tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Beberapa surat sudah dilayangkan. Akhirnya, karena surat tidak terjawab, ibu saya mendatangi rumah siswa tadi, guna mendapatkan informasi objektif. Sesampai di rumah siswa tersebut (yang agak sulit ditemukan), ternyata si siswa berada di rumah, dan memang selama membolos anak ini hanya berada di rumah alias tidak kemana-mana. Siswa ini mengaku tidak masuk karena dipengaruhi teman-teman di lingkungannya. Surat-surat dari sekolah dia tahan, tak disampaikan ke orang tuanya.
Lalu, kemana orang tuanya?
Bapaknya adalah pengangguran. Kerjanya cuma luntang lantung kesana kemari. Ibunya buruh cuci, yang sejak pagi buta sampai senja mencuci dan menyeterika di beberapa rumah. Betapa marah dan kecewanya sang ibu begitu mengetahui anaknya selama ini membolos. Para tetangga sampai ikut melerai agar sang ibu tidak kalap.
Pembaca budiman, sebagaimana sudah saya sebutkan sebelumnya, cerita di atas hanyalah satu di antara sekian banyak cerita lainnya yang kurang lebih serupa: kisah anak yang bermasalah (tidak masuk sekolah, menyelewengkan uang bayaran, narkoba, pergaulan bebas), dan orang tua yang kurang berdaya secara ekonomi (buruh cuci, kuli bangunan, tukang becak, penjaja kue). Nasib seolah mempermainkan orang-orang ini. Lingkaran kemiskinan dan kebodohan seakan tak bisa lepas dan senantiasa menghantui. Jangankan untuk menjadi terpandang secara sosial ekonomi, untuk sekedar hidup rata-rata saja sudah sulit. Adakah kisah yang berbeda? Kisah yang menceritakan perjalanan sukses anak manusia yang berangkat dari kemiskinan? Alhamdulillah, dalam konteks kasus yang dihadapi ibu saya, ada beberapa kisah yang layak disyukuri. Tidak semua anak dari latar belakang keluarga kurang mampu harus tenggelam dalam masalah. Ada beberapa anak (yang sayangnya jumlahnya lebih sedikit) yang berhasil melewati situasi sulit, dan kini relatif lepas dari belenggu masa lalu yang morat marit.
Ada anak tukang kue yang sekarang menjadi wiraswastawan (buka rumah makan dan rental komputer). Ada anak perantauan yang semula harus rela tidur di gardu-gardu ronda, kini sudah menjadi bintara TNI. Ada anak tukang bangunan yang kini sudah menjadi guru di sekolah negeri (dan beberapa hari yang lalu baru saja menikah), dan akhirnya menjadi PNS, bahkan sanggup membeli rumah.
Pembaca budiman, bagi saya, kisah sukses kecil-kecilan ini selain patut disyukuri, juga mengajarkan bahwa bukan nasiblah yang mempermainkan kita, namun sikap kita terhadap hiduplah yang seolah menjadi ‘takdir’ bagi kehidupan kita sendiri. ‘Contoh buruk’ dan ‘contoh baik’ tadi mengajarkan bahwa kitalah yang bertanggung jawab terhadap kehidupan kita, bukan orang lain, bukan sekolah, bukan pula lingkungan.
Orang yang gagal dalam kehidupan cenderung menyalahkan segala sesuatu kecuali dirinya sendiri. Banyak variasi masalahnya; gagal ujian (gurunya ngajarnya nggak enak), bolos sekolah (diajak teman), diprotes klien (kliennya cerewet), ditegur atasan (atasan merasa benar sendiri), dikeluhkan rekan sejawat (rekannya enggak bisa kerja sama), diprotes anak buah (anak buah enggak kompeten), sering bertengkar dengan suami/istri (suami/istri kurang pengertian), dan sederet kasus lain yang bisa Anda tambahkan sendiri. Dalam setiap kasus, selalu terbuka kemungkinan untuk melemparkan ‘tanggung jawab’ kepada pihak lain.
Pembaca yang baik, saya bukan hendak mengatakan bahwa orang atau situasi di luar kita pasti benar, dan selalu kita yang salah. Bukan itu maksud saya. Memang mungkin terbukti bahwa guru kita mengajarnya kurang enak, atau teman-teman memang mengajak bolos, atau klien memang ternyata cerewet, atau atasan memang terbukti otoriter, atau rekan sejawat kenyataannya memang sulit diajak kerja sama, atau anak buah kita terbukti tidak kompeten. Itu semua bisa jadi benar. Namun yang hendak saya garis bawahi adalah bagaimana kita menyikapi itu semua.
Saya pernah diajar dosen yang menurut saya sama sekali tidak enak cara mengajarnya. Pikiran saya dipenuhi rasa kecewa, dan akibatnya memang nilai saya jelek. Saya segera mencari pembenaran, bahwa saya cuma korban dari ketidakbecusan dosen mengajar. Artinya, saya melempar tanggung jawab (atau nasib saya) ke orang lain (si dosen tersebut). Namun ada teman yang ternyata memperoleh nilai sempurna. Dia menyadari masalah penguasaan mata kuliah adalah tanggung jawabnya. Dia juga berpendapat bahwa dosen tadi mengajarnya tidak enak. Namun dia menyikapinya dengan cara yang berbeda. Dia mencari bantuan dari kakak kelas, dan mencari literatur lain yang membantu meningkatkan pemahamannya. Segala yang dia lakukan itu sebetulnya bisa juga saya lakukan (namun toh tidak saya lakukan, karena pikiran saya yang negatif). Hasil akhirnya: nilainya A, sedangkan saya E. Perbedaan cara kami dalam memandang masalah menghasilkan perbedaan ‘nasib’ yang luar biasa.
Dari sekian uraian di atas, dapatlah kita menyimpulkan bahwa cara kita memandang masalah boleh jadi adalah pangkal dari masalah itu sendiri.
1. Pengantar 1.1. Apa yang dimaksud Bekerja di Bidang Informasi? Hadits merupakan sumber hukum kedua bagi umat Islam. Kedudukannya begitu tinggi, karena merupakan panduan hidup setelah AlQuran. Selama ini kita mengenal hadits dalam bentuk kitab-kitab yang terjilid rapi, enak dibaca, dan mudah ditemukan di toko-toko buku. Namun mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa kitab-kitab tersebut dapat sampai ke tangan kita setelah melewati perjuangan dan kerja keras yang luar biasa. Hadits, yang merupakan perbuatan dan perkataan nabi, atau perbuatan sahabat yang dikonfirmasi oleh nabi, sesungguhnya adalah kumpulan informasi. Informasi tersebut dapat sampai ke tangan kita setelah melewati proses seleksi yang ketat, melewati rangkaian manusia serta dari masa ke masa. Proses seleksi tersebut menggunakan suatu metodologi, yang diterapkan dengan penuh disiplin. Dengan demikian, informasi yang sampai kepada kita dapat dikategorikan kualitasnya: shahih (valid), dhaif (lemah), atau bahkan maudlu (palsu, invalid). Di samping itu, metodologi itu sendiri juga telah melewati berbagai ujian sepanjang masa. Ujian tersebut berupa serangan dan keragu-raguan yang dilakukan oleh orang-orang yang memang ingin meruntuhkan sendi-sendi ajaran Islam, maupun dari orang-orang Islam sendiri dengan berbagai motivasinya. Sepanjang sejarah, mulai dari masa para sahabat hingga saat ini, telah terjadi pertempuran yang tak kunjung henti antara pembela As Sunnah melawan musuh-musuhnya. Alhamdulillah, Allah senantiasa melahirkan para ulama yang mampu menjawab tantangan musuh-musuh tersebut. Artikel berikut ini mencoba menampilkan secara singkat metodologi yang diterapkan para ulama dalam menjaga ‘kualitas informasi’ hadits, sehingga umat dapat meyakininya sebagai sandaran hukum dan panduan dalam menjalani hidup. 1.2. Mengapa artikel ini ditulis? Artikel ini lahir dari kecintaan Penulis terhadap As Sunnah, dan kekaguman Penulis terhadap para ulama terdahulu dan kontemporer, yang telah mencurahkan upaya yang luar biasa dalam menjaga warisan berharga bagi umat ini. Semangat dari para ulama terdahulu dan kontemporer dalam bekerja di bidang informasi, dalam hal ini menjaga informasi yang mulia yang datangnya dari Rasulullah Saw, merupakan sesuatu sungguh sepatutnya ditiru. Minimal kita dapat meneladani etos kerja mereka, lebih-lebih kecanggihan metode yang mereka gunakan. 1.3. Siapakah yang perlu membaca artikel ini? Sebagai seorang pekerja Teknologi Informasi (TI), Penulis ingin membagi kecintaan dan kekaguman ini kepada sesama pekerja TI lainnya. Mudah-mudahan, semangat para ulama terdahulu dan kontemporer dapat mengilhami kerja-kerja kita, dan dapat memicu semangat kita untuk memberikan sumbangan yang unik bagi da’wah islamiyah. 2. Mengenal Istilah-istilah dalam Ilmu Hadits 2.1. Pengertian Hadits Secara bahasa, kata hadits berarti baru. Arti ini dimaksudkan sebagai lawan dari kata Qadim (lama, lalu) yang menjadi sifat dari kalam Allah. Secara istilah, hadits atau sunnah adalah hal-hal yang berasal dari nabi Muhammad Saw baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan, maupun sifat-sifat beliau. Sifat-sifat tersebut baik fisik, moral, maupun prilaku. 2.2. Istilah dalam transimisi hadits 2.2.1. Sanad Jalur atau sistem penyampaian berita dengan menyebutkan narasumbernya disebut isnad, yang secara kebahasaan berarti menyandarkan. Karena begitu luhurnya nilai sanad, maka para ulama mengatakan bahwa pemakaian sanad itu merupakan simbol umat Islam. Bahkan Imam Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Sistem sanad ini merupakan bagian dari agama Islam. Tanpa adanya sistem sanad, setiap orang dapat mengatakan apa yang dikehendakinya.” 2.2.2. Rawi Rawi adalah narasumber berita dalam rantai sanad. Rawi merupakan salah satu studi terpenting dalam studi sanad, karena darinya dapat dievaluasi positif atau negatifnya suatu hadits. Ilmu yang mempelajari rawi disebut Ilm al-Jarh wa al-Ta’dil. Ilmu tersebut mengupas karakteristik masing-masing rawi, apakah ia seorang yang bertaqwa, jujur, kuat ingatannya dan sebagainya, atau ia seorang yang suka berbuat maksiat, pelupa, pendusta, dan sebagainya. 2.2.3. Matan Isi atau materi dari suatu hadits. 2.2.4. Marfu’ Hadits yang sanadnya bersambung sampai Rasulullah 2.2.5. Mauquf Hadits yang sanadnya bersambung sampai Sahabat 2.2.6. Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang banyak jumlahnya secara berturut-turut dalam setiap jenjangnya. Jumlah rawi-rawi tersebut, menurut sebagian besar ulama, dalam setiap jenjang tidak kurang dari sepuluh orang. 2.2.7. Ahad Hadits yang diriwayatkan dari Nabi Saw oleh satu orang sahabat atau lebih, kemudian dari mereka Hadist itu diriwayatkan oleh satu orang tabi’in atau lebih, dan demikianlah seterusnya, namun jumlah mereka dalam setiap jenjangnya tidak mencapai jumlah yang ditentukan dalam hadits mutawatir. 2.3. Istilah dalam kualitas hadits 2.3.1. Shahih Hadits dinyatakan shahih manakala memiliki kriteria berikut: Pertama. Sanadnya bersambung sampai Rasulullah. Kedua, sanadnya terdiri dari perawi yang bertaqwa dan kuat ingatannya. 2.3.2. Hasan Hasan berarti baik. Derajatnya dibawah shahih. 2.3.3. Dhaif Dhaif berarti lemah. Suatu hadits dinyatakan lemah apabila pada jalur sanadnya ditemukan perawi yang tidak dipercaya. 2.3.4. Maudlu Maudlu berarti palsu. Dengan sendirinya tidak dapat dianggap hadits. 2.3.5. Muttafaqun Alaihi Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari berbagai istilah tersebut, kita dapat memperkirakan bahwa para sahabat dan ulama-ulama sesudahnya telah menyiapkan sejumlah metode agar hadits yang mengalir dari masa Rasulullah dapat tetap terjaga. Perlu diketahui, sebelum terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, para sahabat tidak terlalu mempersoalkan apabila ada orang yang mengaku mendengar sesuatu dari nabi. Namun setelah terjadi fitnah besar semenjak terbunuhnya khalifah Utsman, orang mulai berhati-hati dalam menerima informasi. Sebab, banyak kelompok dan kepentingan yang tidak segan-segan menggunakan nama nabi untuk membela kepentingannya. Untuk itulah para sahabat terdekat nabi mulai mempertanyakan setiap kali menerima informasi yang diakui berasal dari nabi. Mereka merunut setiap hadits yang mereka dengar, dan meminta orang yang menyampaikan hadits tadi untuk menghadirkan saksi yang dapat dipercaya. Perlahan-lahan, metode tadi berkembang menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri. Betapapun, para pakar ilmu-ilmu hadits menilai bahwa abad pertama hijriah merupakan periode pertumbuhan ilmu-ilmu hadits. Sementara sejak abad kedua sampai abad ketiga dinilai sebagai periode penyempurnaan. Sedang masa berikutnya, sejak awal abad ketiga sampai pertengahan abad keempat merupakan masa pembukuan. Pada masa ini para ahli hadits mulai membukukan ilmu-ilmu hadits. Misalnya, Yahya bin Ma’in menulis Tarikh al-Rijal (Sejarah Para Rawi), Ahmad bin Hanbal menulis al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal (Cacat-cacat Hadits dan Mengetahui Para Rawi). Sungguh mengagumkan dan luar biasa karya-karya ilmiah dan warisan intelektual mereka. Semua itu mereka lakukan dalam rangka seleksi hadits, agar dapat dikeluarkan hadits-hadits yang palsu dari yang shahih. 3. Metodologi Pengumpulan Hadits 3.1. Kapankah hadits pertama kali ditulis? Ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa hadits sudah mulai ditulis sejak masa Rasulullah. Meski mayoritas bangsa Arab waktu itu masih buta huruf, namun beberapa orang sahabat telah memiliki kemampuan tulis menulis. Misalnya sahabat Ali bin Abi Thalib memiliki shahifah (buku) yang selalu beliau ikatkan di pedangnya. Shahifah ini berisi hadits-hadits nabawi tentang hukum pidana, zakat, dan sebagainya. Sahabat nabi Abdullah bin Mas’ud juga mempunyai kitab hadits yang beliau tulis dengan tangan beliau sendiri. Begitu pula sahabat lain seperti Sa’ad bin Ubadah, Abu Rafi’, Asma binti Umais, Samurah bin Jundub, Abdullah bin Umar, dan Jarir bin Abdullah. 3.2. Metodologi Pembukuan Hadits 3.2.1. Metode Juz’ dan Atraf Ini termasuk metode paling awal yang digunakan dalam mengelompokkan hadits. Metode Juz berarti mengumpulkan hadits berdasarkan guru yang meriwayatkan hadits kepada penulis kitab hadits. Metode atraf adalah pembukaan hadits dengan menyebutkan pangkalnya saja sebagai penunjuk matan hadits selengkapnya. 3.2.2. Metode Muwatta’ Secara kebahasaan muwatta berarti sesuatu yang dimudahkan. Sedangkan secara istilah ilmu hadits, muwatta adalah metode pembukuan hadits berdasarkan klasifikasi hukum Islam, dan mencantumkan hadits-hadits marfu, mauquf, dan maqtu. 3.2.3. Metode Mushannaf Secara kebahasaan mushannaf berarti sesuatu yang disusun, namun secara istilah sama artinya dengan muwatta’. 3.2.4. Metode Musnad Metode ini menglasifikasikan hadits berdasarkan nama para sahabat yang meriwayatkan hadits itu. 3.2.5. Metode Jami’ Jami’ berarti sesuatu yang mengumpulkan, menggabungkan, dan mencakup. Kitab Jami’ adalah kitab hadits yang metode penyusunannya mencakup seluruh topik-topik dalam agama, baik aqidah, hukum, adab, tafsir, manaqib, dan lain-lain. 3.2.6. Metode Mustakhraj Manakala penyusunan kitab hadits berdasarkan penulisan kembali hadits-hadits yang terdapat dalam kitab lain, kemudian penulis kitab yang pertama tadi mencantumkan sanad dari dia sendiri, maka metode ini disebut mustakhraj. 3.2.7. Metode Sunan Kata ‘sunan’ adalah bentuk jamak dari kata sunnah, yang pengertiannya sama dengan hadits. Sementara yang dimaksud di sini adalah metode penyusunan berdasarkan klasifikasi hukum-hukum Islam (abwab fiqhiyah), dan hanya mencantumkan hadits-hadits marfu’. Ini yang membedakan dengan metode mushannaf dan muwatta yang juga banyak mencantumkan hadits-hadits mauquf dan maqtu’. 3.2.8. Metode Mustadrak Adakalanya penyusunan kitab hadits berdasarkan menyusulkan (append) hadits-hadits yang tidak tercantum dalam suatu kitab hadits yang lain. Namun dalam menuliskan hadits-hadits susulan tersebut penulis kitab tadi mengikuti persyaratan periwayatan hadits yang dipakai oleh kitab yang lain tersebut. 3.2.9. Metode Mu’jam Metode ini mengumpulkan hadits berdasarkan nama-nama para sahabat, guru-guru hadits, negeri-negeri, atau yang lain. Dan lazimnya nama-nama itu disusun berdasarkan huruf mu’jam (alfabet). Kesembilan metode di atas merupakan metode yang lahir sejak dini, dimulai dari masa para sahabat. 3.2.10. Metode Majma’ Metode ini merupakan terobosan yang dilakukan semenjak kira-kira abad kelima hijri. Pada metode ini, penulis hadits menggabungkan kitab-kitab hadits yang sudah ada. 3.2.11. Metode Zawaid Sebuah hadits terkadang ditulis oleh sejumlah penulis hadits secara bersama-sama dalam kitab mereka. Ada pula hadits yang hanya ditulis oleh seorang penulis hadits saja, sementara penulis hadits yang lain tidak menuliskannya. Maka hadits-hadits jenis kedua ini menjadi lahan penelitian para pakar hadits yang datang kemudian. Hadits-hadits ini kemudian dihimpunnya dalam suatu kitab tersendiri. Metode penulisan ini disebut zawaid yang berarti tambahan-tambahan. 4. Beberapa Ibroh 4.1. Bekerja secara kolektif dan antargenerasi Kalau kita perhatikan istilah dan metode yang digunakan oleh para sahabat dan ulama terdahulu, kita dapat menyimpulkan bahwa sebuah hadits adalah pekerjaan kolektif, dan juga merupakan kerja antargenerasi. Dapat dikatakan, para sahabat sukses membina murid-murid mereka (para tabi’in), demikian pula para tabi’in, sukses membina para tabi’it tabi’in, dan demikian seterusnya. Islam memang menekankan kerja kolektif (amal jama’iy). Hendaknya mereka yang mencintai Islam dan ingin menebarkan sinarnya ke penjuru dunia meneladani cara kerja ini. Bahkan lebih dari itu, para pendahulu kita menekankan betul kaderisasi. 4.2. Penggunaan teknologi terkini Teknologi terbaik yang dapat digunakan dalam memelihara hadits pada masa nabi adalah menuliskannya di pelepah-pelepah kurma, potongan-potongan kulit binatang, dan benda-benda lain yang ada pada waktu itu. Setelah kaum muslimin membebaskan Mesir, barulah para ulama mengenal kertas. Sementara itu, sebagian besar sahabat adalah orang-orang tidak bisa baca tulis. Hanya sebagian kecil yang dapat bacat tulis, yang kemudian memiliki kesadaran untuk menuliskan hadits. Kalau kita analogikan dengan jaman sekarang, sebagian besar bangsa kita adalah orang-orang yang tidak ‘melek’ TI. Hanya segelintir muslim yang memiliki penguasaan TI yang baik. Spirit yang dapat diambil, setidaknya, harus ada sebagian dari umat ini yang terus menerus meningkatkan kemampuan dan menguasai teknologi terkini. Selain itu, belajar dari pendahulu kita, semestinya kita mampu mengambil suatu peran nyata yang unik, yang sesuai dengan bidang kemampuan kita. 4.3. Ketekunan dan Kreatifitas dalam metode pengklasifikasian hadits Sebagaimana telah disampaikan di atas, para ulama memiliki ketekunan dan kreatifitas yang luar biasa dalam mengklasifikasikan hadits. Padahal cara yang dilakukan sangat manual. Diperlukan waktu yang tentu saja tidak singkat untuk menelusuri ribuan hadits dan kemudian mengelompokkannya sesuai dengan kategorinya, dan menuliskannya kembali. Pada saat ini, persoalan mengelompokkan bisa diselesaikan hanya dengan menjalankan sejumlah query. Merupakan tantangan besar bagi kita untuk memberikan sesuatu yang baru bagi umat ini, dengan limpahan kemudahan yang Allah berikan kepada kita. Mungkin perlu dipertimbangkan pengembangan kerja sama antara ulama-ulama yang menguasai ilmu-ilmu keislaman dengan para pekerja TI, sehingga berbagai khazanah keislaman dapat lebih ternikmati. 4.4. Penghargaan terhadap warisan intelektual Kecintaan para ulama terhadap ilmu tidak diragukan lagi. Ekspresinya bukan hanya lewat penyerapan warisan intelektual, namun juga lewat lahirnya berbagai karya baru dan terobosan intelektual. Umat Islam saat ini sesungguhnya memiliki lebih banyak fasilitas yang memudahkan dibandingkan para generasi awal. Jika saat ini kita belum mampu melahirkan karya-karya berarti, agaknya hal itu lebih disebabkan kelalaian kita sendiri. Penulis mengajak kepada diri sendiri dan para pembaca untuk selalu bertanya kepada diri sendiri, apa yang bisa kita sumbangkan bagi kemajuan umat ini. Sesungguhnya nilai kita di mata Allah adalah sejauh mana kita sudah bermanfaat bagi orang lain. Wallahu a’lam bishshowwab
Kejadian itu masih terekam dengan baik dalam ingatannya. Tanpa prasangka dan perasaan apapun, ia menaiki Bus yang akan mengantarkannya ke kantor. Penumpang tidak terlalu banyak. Namun entah kenapa, pintu masuk Bus terasa sesak. Beberapa orang sekaligus berusaha naik bersamanya. Tapi waktu itu ia tidak merasa curiga sedikitpun. Barulah, setelah lolos dari pintu masuk Bus, seseorang berkata kepadanya, “Mas, barusan itu tadi copet, coba deh periksa tasnya!”
Dengan was-was ia memeriksa tasnya. Benar saja, bagian depan tasnya telah terbuka. Ketika ia memasukkan tangan untuk memeriksa isinya, sadarlah ia bahwa isinya telah raib. Handphone kesayangannya kini telah berpindah tangan ke orang lain, secara paksa. Perasaan yang pertama muncul adalah marah, berlanjut dengan sedih, mengasihani diri, dan tidak berdaya.
Ia kemudian memutuskan untuk pulang, menenangkan diri. Sesampai di rumah, bersama sang istri, mereka segera introspeksi diri. Adakah yang salah pada dirinya, hingga Allah memberikan teguran begitu keras kepada dirinya?
Jawaban terhadap pertanyaan itu muncul hampir seketika. Baru beberapa hari yang lalu ia terlibat ‘pertengkaran’ dengan sang ibu. Sempat terlontar kata-kata yang sesunggunya dilarang AlQuran. Masih merasa tidak bersalah, ia menunda permohonan maaf kepada sang Ibu. ‘Nanti saja!’ Pikirnya dengan ego yang melambung.
Namun kini, egonya terhempas ke bumi. Allah memutuskan tidak menunda teguran terhadap dirinya. Ridho Allah terletak kepada ridho orang tua. Demikian Allah menegaskan lewat lisan RasulNya. Ia memutuskan segera menelpon sang ibu, untuk memohon maaf. Namun kemudian tersadar bahwa handphonenya telah raib. Halangan kecil ini membuat kesedihannya semakin menusuk. Akhirnya, bersama sang istri, ia bergegas menuju kediaman sang ibu. Ia akan bersimpuh di kakinya.
* * * * *
Aku mendengarkan cerita tadi dengan tekun. Ini adalah pelajaran penting. Tidak semua orang memiliki kepekaan bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya ada hubungannya dengan perbuatannya yang lain. Dan uniknya, teguran ini memang hanya bisa dimaknai oleh mereka yang pada dasarnya masih memiliki keimanan yang tulus kepada Allah, yang terkadang khilaf, tergelincir, dan melakukan kesalahan.
Teguran ini tidak akan bisa dimaknai oleh mereka yang menganggap bahwa Allah tidak ada urusan dengan kehidupan mereka. Mereka paling-paling akan menganggap bahwa kejadian apapun yang menimpa mereka memang sekedar nasib saja. Memang lagi apes. Jadi tak perlu berusaha mencari-cari hikmah dari setiap kejadian.
Aku pun teringat hadits berikut ini: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Allah akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu)
Kemudian ada hadits lain, “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Allah akan menimpakan baginya musibah.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Hadits tersebut menjelaskan bahwa apabila Allah subhanahu wa ta’ala menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menyegerakan hukuman baginya di dunia.
Aku pun membacakan hadits di atas kepada sahabatku yang menceritakan pengalamannya tersebut. “Maka bergembiralah, wahai saudaraku! Karena musibah ini kita harapkan sebagai bukti bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk diri-diri kita, baik di dunia maupun di akhirat.
“Janganlah patah semangat, wahai saudaraku, atas musibah apapun yang menimpamu, karena itu akan menjadikan besar pula pahalamu, sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung dengan besarnya ujian/musibah yang menimpamu.’ (HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu)
“Besarkanlah hatimu! Karena ini merupakan tanda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dosa-dosamu, sehingga meringankanmu di hari perhitungan nanti. Sebagaimana ini dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
‘Cobaan akan terus senantiasa menimpa seorang mukmin, laki-laki dan wanita, baik pada jiwanya, anaknya, demikian pula hartanya sehingga ia berjumpa dengan Allah (meninggal) dan tidak ada padanya satu dosapun (tidak menanggung satu dosapun).’”
Sang sahabat mendengarkan dengan tekun. Ia menyadari, terkadang Allah menghendaki seseorang itu kembali kepadaNya dengan cara menegurNya melalui sesuatu yang tidak mengenakkan sang hamba. Namun kemudian ia bertanya, apakah tidak mungkin jika seorang beriman itu melewati hidup dengan ‘aman-aman saja’, tanpa perlu melewati banyak cobaan yang berat bahkan terkadang keras?
Dengan tersenyum aku mencoba menjelaskan bahwa bukan berarti orang beriman itu hidupnya pasti susah. Bahkan Allah menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi jika suatu kaum beriman dan bertaqwa. Namun di tengah hidup yang penuh keberkahan seperti itu, bukan berarti tidak ada satu dua kejadian ‘pembersih dosa’ yang akan dialami.
“Bukankah manusia memang tak akan luput dari kesalahan? Nah, ketika kesalahan itu terjadi, boleh jadi Allah akan menurunkan teguran kepadanya berupa cobaan.”
Ia teringat artikel yang ditulis Ust Yusuf Mansur di situsnya www.wisatahati.com, bahwa “Ketika hidup bermasalah, dan keinginan susah dijawab, itu tanda-tanda bahwa Allah rindu kepada kita. Allah ingin kita kembali kepada-Nya, mendekati diri-Nya, dan memohon kepada-Nya. Manfaatkan energi permasalahan dan kesulitan, untuk menjadi bahan bakar yang efektif untuk mendekatkan diri kita kepada Allah.
“Allah senang membantu siapa yang membantu orang lain. Allah senang memudahkan yang memudahkan orang lain. Dan Allah senang meringankan beban siapa yang mau meringankan beban orang lain. Maka ketika kita punya kesulitan, punya keinginan, ulurkan tangan kepada siapa yang bisa kita bantu. Kita sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit dari kita. Kita susah, tapi pasti ada yang lebih susah daripada kita. Ketika kita membantu mereka, Allah akan membantu kita.” Malam telah mulai larut. Sang sahabat memutuskan untuk pamit.
Tinggallah aku seorang diri, merenungkan kembali percakapanku dengan sang sahabat. Mengukur seberapa dekat diriku dengan kata-kataku sendiri. Jangan sampai aku mengatakan sesuatu yang melampaui kapasitas amalku sendiri.
Naudzubillah min dzaalik!
“Ada apa saudaraku? Kau kelihatan lusuh sekali hari ini?” Aku bertanya santun kepada sahabatku ini. Hari itu libur. Matahari belum lagi terik. Suasana cerah. Namun awan mendung menyaput wajah sang sahabat. Sahabatku ini adalah seorang wirausahawan yang cukup sukses. Ia berinvestasi dan menjadi pemilik beberapa perusahaan dengan berbagai portofolio. Penghasilan bulanannya mencapai puluhan juta. Namun, kesejahteraan tidak nampak pada sosoknya hari ini. Selanjutnya, setelah menyeruput beberapa teguk teh panas yang masih mengepul, sahabatku bercerita. Salah satu perusahaan tempat ia memimpin sedang dilanda kemelut. Jajaran manajemen di perusahaan tersebut mengajukan keberatan terhadap beberapa kebijakannya, melakukan tuntutan kenaikan gaji, bahkan memaksanya melepas kepemilikannya terhadap perusahaan tersebut. Ia sendiri bukan orang yang baru dalam urusan friksi-friksi bisnis seperti ini. Namun yang membuatnya sedih adalah sikap teman-temannya tersebut yang tidak sopan bahkan kasar ketika menyampaikan tuntutannya. Padahal perusahaan tadi ia bangun bersama teman-teman, dengan niat awal semangat ukhuwah dan mencarikan lahan pekerjaan bagi sebagian mereka yang memang waktu perusahaan itu didirikan masih belum memiliki mata pencarian tetap. Aku tercenung. Bukan baru pertama kali ini aku mendengar bisnis berbuah perpecahan. Sekumpulan sahabat yang begitu dekat satu sama lain, membangun kerja sama bisnis dengan niat yang mulia, yaitu mandiri secara ekonomi sekaligus menjalin sinergi. Namun alih-alih mencapai kesejahteraan bersama, justru perpecahanlah yang terjadi. Pada beberapa kejadian, memang keruwetan yang terjadi bisa diuraikan, dan beberapa kesalahpahaman dapat diluruskan. Ukhuwah yang sempat menegang pun dapat kembali dipulihkan. Namun pada sebagian kejadian yang lain, hubungan baik yang semula terjalin menjadi hancur berkeping-keping. Istilah sahabat berganti menjadi ‘mantan sahabat’. Seluruh kenangan manis ketika bisnis belum terjalin pun tergilas oleh kepentingan-kepentingan pragmatis bisnis. Aku kemudian mengajukan beberapa pertanyaan detail untuk menggali lebih jauh akar permasalahannya. Ternyata ada kesalahpahaman fatal antara sahabat ku ini dengan anak buahnya. Diimbuhi dengan prilaku komunikasi yang tidak sehat yang selama ini mengalir di antara mereka. Sahabatku dituntut karyawannya untuk menaikkan gaji sebagaimana yang pernah ia janjikan sebelumnya. Sementara sang sahabat sendiri merasa tidak pernah berjanji untuk menaikkan gaji. Ia hanya pernah mengatakan bahwa ia berkeinginan menaikkan gaji pegawai apabila situasi keuangan sudah memungkinkan. “Ada perjanjian tertulisnya?” tanyaku. Sang sahabat menggeleng. Itu semua hanya secara lisan. Aku pun menghela nafas. “Barang kali ini salah satu hikmah kenapa ayat terpanjang di Al Quran berbicara tentang masalah muamalah. Potensi konflik yang bermula dari masalah ini memang sangat besar.” Aku masuk ke dalam rumah, mengambil terjemah Al Quran. Kubuka surat Al Baqarah ayat 283, dan kemudian membacakan terjemahannya. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Usai membacakan ayat tadi, Aku menghela nafas lagi. Kataku kemudian, “Tentu ada maksud tertentu ketika Allah memberikan uraian begitu rinci terhadap suatu persoalan. Masalah ini mirip dengan masalah harta warisan. Allah memberikan penjelasan begitu detail, karena memang kedua masalah ini memiliki potensi konflik yang begitu besar. “Bahkan Allah menyebutkan bahwa perjanjian kerja sama yang tidak dilakukan secara tertulis adalah sejenis dosa. “Selama ini kita menyangka dosa hanyalah sebatas maksiat-maksiat fisik seperti judi, berzina, bergunjing dan sebagainya. Kita lupa bahwa dalam persoalan muamalat pun kita mungkin berdosa dengan meninggalkan syariatnya. Nah, salah satu syariat tersebut adalah melakukan pencatatan.” Sang sahabat hanya terdiam menyadari kekeliruan. Sementara Aku pun menyadari bahwa sang sahabat datang kepadaku bukan untuk sekedar mendengarkan vonis kesalahan dirinya. “Satu pelajaran lain dalam masalah ini adalah, betapapun tajamnya konflik kita dengan saudara kita, hendaknya kita tidak mengeluarkan kata-kata maupun sikap yang berlebihan dan tidak proporsional. “Luka akibat kata-kata dan sikap dapat berbekas lama sekali di hati.” “Insya Allah, saya berusaha untuk selalu menjaga sikap saya,” jawab sang sahabat, “Justru saya terkejut, tersinggung, dan terutama sedih melihat sikap teman-teman yang begitu kasar.” Sang sahabat menarik nafas panjang, “Padahal mereka saya anggap orang-orang yang mengerti agama, tapi mengapa akhlaq mereka seperti itu?” keluhnya lagi. Aku tidak menjawab. Aku tentu bersimpati terhadap nasib sahabatku ini. Namun aku juga perlu menjaga keseimbangan informasi, agar berita yang aku terima tidak hanya sepihak. Juga bukan berarti aku tidak percaya terhadap sahabatku tersebut. Pihak lain juga berhak untuk menyampaikan fakta sesuai versi mereka. “Bersikap baik ketika hati tenang bukanlah suatu keistimewaan. Yang istimewa adalah jika kita mampu tetap bersikap baik ketika emosi memuncak.” Tuturku. Diskusi masih berlanjut beberapa saat lagi. Satu kisah lagi terjadi, tentang pergumulan anak manusia dalam mengarungi samudera kehidupan. Padahal mereka semua hanya akan kembali kepadaNya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Seperti yang sudah-sudah, aku pulang kemalaman. Sama seperti rapat-rapat sebelumnya, pertemuan kembali berlarut-larut. Kebanyakan peserta datang tanpa persiapan memadai. Kebanyakan malah dengan sisa tenaga setelah seharian lelah bekerja. Banyak juga yang tidak tahu agenda pertemuan barusan. Hanya sedikit yang terlihat mencatat ini itu. Sebagian besar hanya duduk, mendengar, dan berkomentar. Situasi ini diperparah dengan banyaknya peserta yang ngaret, sehingga pertemuan baru dimulai setelah melar 45 menit. Tapi ini kegiatan sosial. Sanksinya hanya sebatas moral. Tak ada yang mengikat kecuali nurani masing-masing. Aku pun belajar untuk memahami. Bahwa mereka masih mau berkumpul, berpayah-payah memikirkan masalah umat saja, sudah suatu hal yang mesti disyukuri. Jadi, sudahlah. Maka, masih dengan sisa-sisa mangkel yang semakin terusir, aku membuka pintu pagar rumah. Isteri dan anak-anakku sudah terlelap. Sebentar lagi jam dinding akan berdentang dua belas kali. Seperti seharusnya, aku membawa kunci cadangan. Pintu pagar terbuka dengan mulus. Prosedur selanjutnya adalah membuka pintu ruang tamu. Kumasukkan anak kunci ke lubangnya, dan... macet! Kucoba lagi, kali ini dengan lebih hati-hati, presisi, tetap tak berhasil. Kegusaran mulai muncul. Kucoba lebih keras, masih tak bisa. Akhirnya kusimpulkan, isteriku lupa melepas anak kunci dari dalam. Kelalaian yang menyebalkan. Setelah capek seharian bekerja, menahan kesal karena rapatnya yang tidak efisien, membuang kantuk di tengah malam, kedinginan diselimuti angin menjelang dini hari, kegusaran pun dengan cepat memuncak. Namun nyala terang nalarku masih tersisa. Kukeluarkan hp dari saku jaket, dan kutelpon rumah. Sebelas deringan, dan tak ada reaksi. Kuketuk-ketuk pintu rumah, lebih tak berhasil lagi. Aku menarik nafas dalam-dalam, dan menatap teras. Tiba-tiba saja aku teringat Rasul junjunganku tercinta. Apa yang beliau lakukan di situasi seperti ini? Aku teringat kisah beliau yang pulang kemalaman, dan tak tega membangunkan Aisyah-nya. Akhirnya beliau memutuskan tidur di teras rumah. Paginya Aisyah terjaga, dan terkejut bukan kepalang. Namun justru Rasul yang berkata, “Maafkan aku sayang, aku pulang kemalaman.” Aku, di tengah malam itu, tak mampu mengingat shahih tidaknya riwayat tadi. Namun ingatan tadi membuat pikiran jengkel telah cepat terusir, berganti dengan empati. Mungkin isteriku begitu sibuk dan letihnya, sehingga lupa melepas anak kunci. Kupandangi lagi teras rumah. Lantainya terlihat begitu dingin. Hawa malam pun tak kurang menggigitnya. Berbaring di teras hanya akan memicu kumatnya asma. Belum lagi nyamuk kebon yang galak-galak itu. Sanggupkah aku? Rasa kesal sudah menguap, bergabung bersama embun yang sebentar lagi menetes. Yang muncul kini rasa bingung. Setelah kebingungan beberapa jenak, dengan pasrah, aku mengetuk lagi, namun kali ini yang kuketuk adalah jendela kaca. Pelan saja. Di luar dugaan, ketukan yang lembut ini justru berhasil membangunkan isteriku. Wajahnya terlihat begitu penuh penyesalan. Ekspresi rasa bersalah ini memang tak patut untuk dihujani lagi dengan gerutuan dan omelan. Tak seperti nabi yang justru meminta maaf, episode kali ini tetaplah isteriku yang meminta maaf. Sementara aku hanya tersenyum maklum. Dan isteriku pun terpana, menanti teguran yang tak kunjung tiba dari lisanku. * * * * * Hari telah sangat larut. Tak banyak kata pengantar tidur. Namun aku masih terpesona dengan ketinggian akhaq Sang Nabi. Jauh sebelum diangkat sebagai utusan-Nya, beliau telah terkenal dengan keagungan akhlaqnya. Beberapa hadits tentang keluhuran akhlaq beliau pun melintas, melompat-lompat dalam pikiranku. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kamu terhadap keluargaku.” Teringat aku akan indahnya pergaulan Rasulullah dengan cucu-cucunya. Ath-Thabrani meriwayatkan dari As Said bin Zaid RA, bahwa suatu saat Rasulullah memeluk Hasan (salah satu cucu beliau). Aqra bin Habis berkata kepada beliau, “Aku sudah mempunyai sepuluh anak, tapi aku belum pernah memeluk salah seorang di antara mereka.” Mendengar hal itu Rasulullah bersabda, “Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia.” Ada lagi satu kisah yang telah banyak diceritakan, yaitu ketika Rasulullah sedang sujud, datanglah Hasan dan Husein. Kedua cucu beliau yang masih kecil itu menaiki punggung beliau yang tengah sujud. Rasulullah pun sujud lebih lama, sampai kedua cucu beliau tersebut turun. Ketika para sahabat seusia sholat mempertanyakan, mengapa Rasulullah memperpanjang sujud, beliau mengatakan, “Cucuku telah menahanku, dan aku enggan mengusiknya.” Betapa lembutnya beliau terhadap anak-anak kecil. Tidak hanya kepada anak keturunannya sendiri, namun juga kepada yang lain. Teringat aku pada kisah tentang sholatnya Rasulullah. Saat beliau memulai memimpin sholat, terdengar olehnya suara tangis bayi. Maka Rasulullah pun mempercepat sholat, karena empati terhadap perasaan ibu si bayi. Terhadap pembantu di rumahnya pun Rasulullah begitu santun. Anas Ra lah yang menjadi saksi, Anas bin Malik r.a. berkata, “aku pernah berkhidmat dengan Rasulullah s.a.w. sepuluh tahun, tetapi tidak pernah Rasulullah memaki atau membentak aku.” Dalam salah satu lembar halaman di kitab Ar Rasul, tercantum penjelasan berikut, “Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayani, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Dia tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Dia tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala. Dia tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan dia merasa takjub bila mereka merasa takjub. Dia selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi dia tetap menyabarkan mereka dengan berkata: “Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya”.” Sebelum tertidur, kuucapkan sholawat untuk beliau...
 Maksiat membahayakan manusia di dunia dan di akhirat. Tidak ada yang bisa mengetahui akibat dan pengaruhnya kecuali Allah Subhaana Wa Ta’aala. Namun demikian, pengaruh maksiat itu dapat dirasakan. Antara lain : 1. Maksiat menghalangi ilmu Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut. Imam Syafi’i duduk di depan Imam Malik. Dia membacakan sesuatu yang membuat Imam Malik kagum. Imam Malik sangat mengagumi kecepatannya dalam menangkap pelajaran, kecerdasannya dan pemahamannya yang sempurna. Imam Malik berkata, “Aku melihat, Allah telah meletakkan sinar dalam hatimu. Jangan padamkan sinar itu dengan kegelapan maksiat.” Imam Syafi’i menjawab, “Saya mengeluhkan hafalanku yang jelek kepada Waki’. Ia menasehatiku untuk meninggalkan maksiat. Waki’ berkata, ‘Ketahuilah bahwa ilmu itu anugerah dan anugerah Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.” 2. Maksiat menghalangi rezeki Dalam Musnad dikatakan, “Sesungguhnya seorang hamba tidak mendapatkan rezeki karena dosa yang dikerjakannya.” Taqwa kepada Allah dapat mendatangkan rezeki, sementara meninggalkan taqwa mendatangkan kefakiran dan kemiskinan. 3. Maksiat menimbulkan kerisauan dan kesepian dalam hati Kenikmatan dunia seisinya tidak akan mampu mengimbangi keresahan seorang manusia. Ini adalah sesuatu yang tidak dirasakan, kecuali oleh orang-orang yang hatinya hidup. Orang mati tidak merasakan sakit yang ditimbulkan oleh lukanya. Maksiat dapat membuat keresahan dan keterasingan. Orang berakallah yang memilih meninggalkan maksiat. Tidak ada yang lebih pahit yang dirasakan seseorang di dalam hatinya daripada kerisauan dan keterasingan dari orang lain, lebih-lebih dari orang baik yang ada di lingkungannya. Setiap kali perasaan terasing akan menjadi kuat, ia akan menjauhkan diri dari lingkungan dan dari majelis mereka. Ia tidak akan mendapatkan manfaat dari orang-orang yang baik. Akhirnya, ia mendekati kelompok setan, sebanding dengan jauhnya ia dengan kelompok orang yang dekat dengan Allah. Perasaan terasing ini bertambah kuat dan akhirnya menguasai dirinya. Kemudian muncullah perasaan terasing dari keluarganya serta anak-anaknya. Iapun menjadi risau dan tertekan. 4. Maksiat mendatangkan kesulitan Kemaksiatan menjadikan seseorang menjumpai banyak kesulitan. Ia tidak mendapatkan pemecahan, kecuali jalan yang serba sulit. Orang yang bertaqwa kepada Allah mendapatkan keringanan, orang yang tidak bertaqwa akan mendapatkan kesukaran dari Allah dalam setiap urusannya. Sangat mengherankan, seorang hamba mendapati pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan sudah tertutup bagi dirinya, sedangkan ia tidak mengetahui asal muasalnya. 5. Maksiat menimbulkan kegelapan dalam hati Berkatalah Abdullah ibn Abbas r.a, “Sesungguhnya untuk kebaikan ada cahaya pada wajah, sinar pada hati, kelapangan pada rejeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan dari hati banyak orang terhadap dirinya. Adapun perbuatan buruk menimbulkan warna hitam pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan pada badan, kekuranga rezeki, dan rasa benci kepadanya di hati banyak orang.” 6. Maksiat melemahkan hati dan badan Sesungguhnya orang mukmin itu kekuatannya terletak pada hati. Bilamana hatinya menguat, badannya pun menjadi kuat. Sedangkan orang yang jahat akan rusak badannya. Walaupun berbadan kuat, sesungguhnya ia sangat lemah. Saat memerlukan kekuatan, ia dikelabui oleh oleh kekuatannya sendiri yang sangat diperlukannya. Kita tidak bisa membayangkan mengenai kekuatan badan tentara Romawi dan Persia yang akhirnya dapat dikalahkan oleh orang-orang beriman dengan kekuatan hati. 7. Maksiat menghalangi ketaatan Hukuman bagi pendosa adalah terhalangnya ia dari menaati Allah dan terputusnya jalan kebaikan yang lain. Sedangkan ketaatan lebih baik dari dunia seisinya. Ibaratnya, seseorang makan makanan yang mendatangkan penyakit, yang akhirnya mencegahnya dari berbagai macam makanan yang enak dan baik. 8. Maksiat mengurangi umur dan mengikis berkah Sesungguhnya kebaikan akan menambah umur dan kejahatan mengurangi umur. Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Sebagian mengatakan bahwa kurangnya umur orang yang suka melakukan maksiat ialah karena hilangnya berkah. Ini yang benar dan merupakan bagian dari akibat kemaksiatan. Ulama yang lain berpendapat, maksiat benar-benar mengurangi umur. Ia menguranginya seperti ia mengurangi rezeki. Allah s.w.t menjadikan berkah pada rezeki sebagai sebab yang membuatnya bertambah banyak. Adapun berkah umur manusia juga banyak tandanya. Bisa berupa rezeki yang bertambah banyak dan umur yang bertambah panjang. Para ulama mengatakan, bertambahnya atau berkurangnya itu tidak karena sesuatu sebab. Rezeki dan ajal, bahagia dan sengsara, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, merupakan ketetapan dari Allah. Kelompok lain berpendapat bahwa pengaruh dari maksiat itu ada pada panjang pendeknya umur, karena hakekat hidup merupakan kehidupan kalbu. Oleh karena itu, Allah menjadikan orang kafir sebagai orang mati. (QS An Nahl 21) 9. Maksiat melemahkan hati untuk berbuat kebajikan Maksiat tumbuh sedemikian rupa sehingga terasa berat bagi seseorang untuk meninggalkan dan keluar darinya. Para salaf mengatakan bahwa buah dari keburukan adalah keburukan pula. Sesungguhnya pahala dari kebaikan adalah kebaikan pula. Bila seseorang hamba berbuat kebajikan, amal kebajikan lain akan berkata, “Amalkan aku juga.” Kalau ia mengerjakan amal yang kedua tadi, amal kebaikan yang ketiga-pun menuntut hal yang sama. Dengan demikian keuntungan menjadi bartambah berlipat ganda. Demikian pula halnya dengan keburukan. Sikap taat dan maksiat, sama-sama dapat menjadi sifat yang permanen dan akan menjadi karakter yang kuat. Bila sedikit saja melalaikan ketaatan kepada Allah, orang yang berakhlak baik akan merasa terhimpit. Bumi yang teramat luas akan terasa sempit. Jika pelaku maksiat meninggalkan maksiat dan berniat berbuat taat, pasti hatinya merasa sempit, resah dan sesak. Pandangannya menjadi buntu, ia tak rela meninggalkan kemaksiatannya. Ia lega apabila kembali berbuat maksiat, Oleh karena itu, banyak orang fasik berbuat maksiat lagi tanpa merasa puas dan ingin selalu mengulanginya karena merasa sakit bila meninggalkannya. Bila seorang hamba terus menerus menyukai ketaatan, Allah akan mengirimkan malaikat pembawa rahmat untuknya. Malaikat tersebut mengangkatnya dengan rahmat yang dibawa, menariknya dari tempat tidur atau tempat duduk untuk dicurahi rahmat itu. Kalau seseorang terus-menerus menumpuk kemaksiatan sehingga menjadi ketagihan, Allah akan mengirim setan untuknya. Setan mengangkat orang itu lalu menggotongnya untuk dilemparkan lagi ke jurang kemaksiatan yang semakin dalam. 10. Maksiat melemahkan kebaikan Maksiat merupakan hal yang paling menakutkan bagi manusia. Ia akan melemahkan kehendak yang baik dan memperkuat kehendak yang buruk atau keinginan berbuat maksiat. Sementara itu, keinginan untuk bertaubat melemah sedikit dmi sedikit hingga lenyap secara keseluruhan dari hatinya. Wallahu a’lam bish-shawab (Sumber : TERAPI PENYAKIT HATI, Ibnul Qayyim al-Jauziyah)
Kisah tentang perkembangan lembaga ini bisa teman2 ikuti di http://al-umm.net. Di sini rekans juga dapat mengakses berbagai informasi seputar tips menghapal alquran, mengenal tokoh2 tafsir, dan berbagai artikel lainnya yang akan terus berkembang. Saat ini isinya memang belum begitu banyak, soale baru 1 pekan ini dirilis. Mohon bantuan doanya ya ... (donasinya juga enggak apa-apa :-D )
http://al-umm.netEramuslim pekan ini mengadakan silaturrahim dengan sebuah lembaga yang berperan dalam mencetak pelajar hafal Al-Quran 30 juz. Dan sempat mewawancarai Ketua Bidang Tahfzhul Qur’an, Ustadz H. Taufik Hamim Effendi, Lc. dan berikut ini petikan wawancara dengan beliau. Bisa ustadz ceritakan tentang berdirinya lembaga ini? Sejak kapan berdiri? Lembaga Pendidikan Tahfizhul Qur’an (LPTQ) Al-Umm didirikan pada bulan Maret tahun 2006, ide ini muncul dari keinginan salah seorang pendiri yang dua orang anaknya pernah mengikuti program menghafal Al-Qur’an di wilayah Bekasi timur, kota Bekasi Jawa barat, namun karena masalah pendanaan, akhirnya program itu hanya berjalan kurang lebih lima bulanan. Selanjutnya dengan merekrut beberapa teman dan ustadz yang memiliki kapasitas di bidang menghafal Al-Qur’an, akhirnya muncul ide untuk mendirikan sebuah lembaga untuk mendidik pelajar hafal Al-Qur’an 30 juz. Maka didirikanlah sebuah lembaga yang bernama Lembaga Pendidikan Tahfizhul Qur’an (LPTQ) Al-Umm. LPTQ Al-Umm ini adalah sebuah lembaga yang bernaung di bawah Yayasan Istiqomah Bina Umat (IBU) sebagai ketua umumnya adalah Prof DR. KH. Achmad Satori Isma’il, MA, yang sekaligus juga ketua LPTQ Al-Umm ini. Dengan dibantu oleh saya sebagai ketua bidang program Tahfizhul Qur’an, sebagai penanggung jawab Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Apa tujuan dari berdirinya LPTQ Al-Umm? Tujuan berdirinya LPTQ Al-Umm ini adalah untuk berkhidmat dalam melestarikan Al-Qur’an dalam bentuk hafalan, selain itu juga LPTQ Al-Umm bercita-cita mencetak pelajar berprestasi dan hafal Al-Qur’an. Lembaga ini ingin membuat kesan bahwa menghafal Al-Qur’an 30 juz tidak harustinggal di pesantren. Siapa yang ikut mendirikan? Pendiri Lembaga pendidikan Tahfizhul Qur’an (LPTQ) Al-Umm adalah Prof. DR. KH. Achmad Satori Isma’il, MA (Ketua Umum Yayasan dan Lembaga), DR. Ahzami Sami’un Jazuli, Ust. H. Ahmad Qusyairi Suhail, MA (Pembina), Ust. H. Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafizh, Lc, Ust. H. Ahmad Syaikhu (Pengawas), Muhammad Sofyan, SE, Ak (Sekretaris Umum), Adam Malik Ridwan (Ka. Riset dan pengembangan) dan Agus Sosianto (Bendahara) dan saya sebagai Kabid Program Tahfizhul Qur’an. Sudah berapa orang yang berhasil menghafal Al-Quran? Sampai saat ini alhamdulillah ada santri yang belum genap satu tahun menghafal di LPTQ Al-Umm ini sudah mencapai delapan juz. Selebihnya ada yang hafal tiga juz, empat juz, lima juz dan enam juz. Untuk usia berapa tahun? Umur minimal untuk dapat mengikuti program ini adalah sejenjang dengan kelas 3 SD. Waktu belajarnya apakah tiap hari? Waktu belajar yang LPTQ Al-Umm sediakan sementara ini adalah tiga kali dalam sepekan, yaitu hari Rabu dan Jum’at mulai jam 15. 00-18. 00, serta hari Ahad mulai 09. 00-15. 00. Jadi santri sepulang sekolah dapat langsung menuju LPTQ Al-Umm untuk mengikuti KBM. Berapa biaya yang harus dikeluarkan bila ada orang tua yang ingin anaknya jadi penghafal Quran? Program menghafal Al-Qur’an di LPTQ AL-Umm ini gratis 100%, bahkan santri mendapatkan makanan ringan tiap kegiatan belajar mengajar (KBM). Selain mendapatkan itu, juga mendapatkan makan siang gratis. Bahkan santri yang sudah hafal setengah juz atau 10 halaman setiap bulannya akan mendapatkan beasiswa Rp 100. 000 setelah dites dan dinyatakan lulus oleh ust |
|